Bukan Nicholas :D

Tentang Seorang Lelaki yang Disebut Ayah..

In Randomized on April 26, 2012 at 02:45

Saya tidak akan pernah malu disebut “Daddy’s Girl”. Saya sangat luar biasa bangga dengan ayah saya, “papih“.

Sekilas yang saya tau tentang kata “ayah”:

Beliau hanyalah sosok lelaki biasa, sederhana namun bersahaja. Dengan gajinya yang hanya seorang pegawai kecil, ayah memang tidak memanjakan kami, anak-anaknya, dengan harta melimpah mewah. Saya tidak punya gadget-gadget modern itu, atau aksesoris intan berlian. Tetapi saat teman-teman saya masih gagap dengan komputer, saya malah sudah dihadiahkan komputer sendiri. Saat teman-teman saya baru saja mengenal internet di warnet, saya sudah memiliki seperangkat laptop beserta modemnya. Saat teman-teman saya baru mengenal hape doraemon*) (?), saya sudah pegang hape GPRS lengkap dengan fitur kamera. Maka ketika teman-teman saya sekarang berlimpah dengan sejuta macam gadget canggih, bahkan ada yang mengolok-olok saya karena hape jadul (?) saya dan tidak punya BeBeh, saya hanya bisa tersenyum. Sungguh saya tidak iri. Tentu saja milik saya JADUL, karena saya jauh lebih dulu memilikinya bahkan ketika mereka belum mengenalnya. Begitulah ayah yang tidak menghujani kami dengan harta, tetapi memprioritaskan apa yang penting untuk kami.

Beliau adalah sosok guru. Saya yang sudah sebesar ini masih saja sering bertanya kepada beliau, tentang apa saja, sesederhana apapun, serumit apapun, padahal bisa saja saya mencari jawabannya sendiri dengan google. Tetapi beliau tidak pernah bosan, dan selalu menjawabnya dengan “cerdas” dan sederhana, semisal saya ini anak TK yang memang belum paham apa-apa dan selalu ingin tau.

Beliau adalah sosok pekerja keras. Ayah dengan segala kekuatannya tidak pernah membiarkan kami hidup susah meski tidak mewah. Tidak bisa kubayangkan, bagaimana dulu ayah (dengan gaji kecilnya) mampu membiayai kuliah kami bertiga, di tahun yang sama. Belum lagi biaya bulanan untuk saudara-saudaraku yang tinggal di luar pulau. Bahkan ayah masih saja membujuk kami untuk terus sekolah dan sekolah.  Menuntut ilmu setinggi-tingginya. Memiliki gelar sebanyak-banyaknya. Padahal beliau tidaklah bergelar profesor atau doktor.

Apalagi saya, yang kini menyendiri di luar pulau. Kiriman bulanan saya tidak pernah kurang. Ayah takut saya tidak makan karena tidak punya uang. Ayah takut saya tidak lagi ngemil (hobi saya) karena kehabisan uang. Ayah takut saya kekurangan uang untuk beli pakaian. Kadang saya ingin berkata kepadanya: “uangmu tidak selalu membuat saya bahagia“. Lalu ayah mengunjungi saya, menempuh jarak yang tidak murah, dengan waktu cuti yang tidak lama, hanya karena saya menangis ingin pulang sehari sebelum Hari Raya Pertama saya di sini, di tempat yang jauh dari ayah.

Beliau adalah sosok sahabat. Ketika saya bersama dengan teman-teman saya, ayah ikut membaur serupa remaja dengan kami. Rumah kecilku tak jarang menjadi posko, teman-teman beramai-ramai ke rumah bukan hanya ketika kami harus mengerjakan tugas kelompok, atau mereka ada keperluan denganku. Bertandang untuk sekedar mampir, ngerumpi, masak (aseli, mindahin dapurnya ke rumah), tiduran atau menginap. Tidak hanya cewek, yang cowok pun tak terhitung. Dan ayah, selalu menyempatkan diri untuk ikut nimbrung dengan teman-teman saya. Bahkan beberapa di antara mereka kemudian menjadi sahabat ayah (loh?).

Ketika saya merasakan hidup sendiri di sini tidaklah mudah. Saya mengeluh pada ayah. Bahkan masalah-masalah yang tidak berkaitan dengan kebapakannya saya tumpahkan padanya. Masalah teman, masalah tempat tinggal, dosen, kuliah, jurnal, bahkan rasa masakan di sini yang tidak jua cocok dengan lidah saya saya keluhkan semua padanya. Ketika saya merasa tidak sanggup, ingin menyerah dan pulang saja, dengan nada penuh penyesalan ayah selalu berkata:

“Maaf Nak, Bapak tidak bisa di situ untuk membantumu menyelesaikannya. Bapak tidak bisa di situ menemani kamu. Sekarang kamu terpaksa harus sendiri tanpa Kami. Bapak tidak bisa berbuat apa-apa untukmu di sini”

Bahagia. Satu kata yang merangkum semua perasaan saya memiliki ayah sehebat beliau. 

***

 *) hape monoponik Motor***a yang layarnya bulat, sehingga keseluruhan nampak seperti doraemon, wkwkwkwk

onion-emoticons-set-1-15

Tetapi aku di sini, tidak menyelesaikan apapun,
Hanya menghamburkan uang ayah dengan sia-sia.

T_T 

B-E_R_S_A_M_B_U_N_G.

Advertisements

Please, Correct Me If I'm Wrong :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: