Bukan Nicholas :D

Senyum Indah, Semalam Tadi.

In Fiksi on January 6, 2013 at 14:48

pangeranorange1928.blogspot.com

Semalam ia datang lagi. Menghampiriku yang duduk terpaku tanpa kata. Ia berdiri tepat di belakangku, mengalungkan kedua lengannya di leherku. Dagunya ia tumpukan di ubun-ubunku. Sehingga berat tubuhnya seolah-olah menyatu dalam tubuhku, tertarik oleh grafitasiku. Ia mencium kepalaku, seraya ku dengar suara bisikannya dari balik cuping telingaku. Ia melafalkan bait-bait Pablo Neruda, dengan lirih, Syahdu.

I do not love you except because I love you;
I go from loving to not loving you,
From waiting to not waiting for you
My heart moves from cold to fire.

I love you only because it’s you the one I love;
I hate you deeply, and hating you
Bend to you, and the measure of my changing love for you
Is that I do not see you but love you blindly.

Maybe January light will consume
My heart with its cruel
Ray, stealing my key to true calm.

In this part of the story I am the one who
Dies, the only one, and I will die of love because I love you,
Because I love you, Love, in fire and blood.

Puisi lah rayuan maut yang tak mampu ku tolak. Puisi pula yang mampu meluluh lantakkan hatiku. Pria penggemar puisi adalah pujaanku. Dan ia, memujaku dengan bait-bait puisi, indah. Dari nada suaranya, aku menebak dia sedang tersenyum bahagia  (karenaku?). Senyum yang tak pernah kulihat sepanjang mengenalnya.

Oh Tuhan. Kami begitu dekat. Aku bahkan bisa merasakan debaran jantungnya di balik punggungku, hangat darah yang mengalir di bawah kulitnya. Aku bisa mendengar desah nafasnya, mencium aroma tubuhnya. Tolong, biarkan waktu berhenti lebih lama ketika itu.

Aku tak perlu melihatnya, asalkan aku tahu senyumnya menyungging karenaku. Aku tak pinta hidupnya, hanya ingin lengan kekarnya selalu terbentang untuk menjagaku, meski jauh. Meski doa, masih akan lebih panjang daripada lengannya.

Aku tidak pernah benar-benar merindukannya. Karena ketika sinyal rinduku memancar, ia akan selalu datang, dengan tergopoh-gopoh. Meski hanya untuk menggenggam jemariku yang setiap selanya kubiarkan kosong hanya untuk dia. Kemudian dengan terburu-buru juga ia pergi lagi. Hanya sesebentar itu. Tak bisa lebih lama. Bahkan menanti fajarpun tak lagi sempat.

Setiap detik yang mampu kurekam bersamanya, kukenang sambil terpejam. Lalu menusuk biji mataku. Seperti terlilip debu, perih. Jika tak mampu ku tahan, akan berebutan keluar sebagai air. Merindukannya kini mulai terasa perih. Karena berulang-ulang mengingatnya, berulang-ulang pula aku merasa jatuh cinta. Cinta pada hati yang salah.

#Fiksi #Kangen #Kamu

Advertisements

Please, Correct Me If I'm Wrong :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: