Bukan Nicholas :D

Curahan Hati Seorang Darwis “Tere Liye”

In Kutipan :), Randomized on January 22, 2013 at 15:32

Bagi para penggemar novel, sudah hampir pasti tahu nama Tere Liye. Tidak sengaja saya menemukan tulisan beliau (saya kutip di bawah ini). Saya menyimak bahwa untuk membuat karya besar serupa Hafalan Delisa, tidak harus sempurna, tidak harus detail, tidak harus ‘wah. Menulis tanpa harus merisaukan kelak tulisan kita menjadi apa. Orang lainlah yang akan menjadi penilai, karya kita pantas atau tidak dibanggakan. Tugas kita hanyalah menulis, dan jangan berhenti menulis. Sampai nanti mati, dan tidak mampu menulis lagi.

ttg fiksi dan non fiksi di novel hafalan shalat delisa Dec 29, ’11 5:20 PM
for everyone
1. apakah sy pernah ke Aceh? tidak pernah. makanya deskripsi Aceh di novel delisa kacau.

2. apakah sy tahu di mana letaknya lhok nga? tdk tahu. makanya orang2 yg tahu Lhok nga protes, kenapa lama sekali pakai helikopter ke banda aceh.
3. apakah sy tahu dialek Aceh? tdk tahu, makanya novel delisa memakai dialog nasional.
4. apakah sy tahu kultur dan kebiasaan setempat? tdk tahu, makanya di novel delisa, itu minim sekali penjelasan kebiasaan setempat, bahkan menulis meunasah sj salah2 mulu.
5. apakah sy tahu nama2 Aceh? tdk tahu, sy ambil sj sembarang nama yg melintas di televisi, koran, sekitaran. sama seperti sy mengambil sembarang nama Tere-Liye, kalau pemilik hak film ‘Tere-Liye’ di India sana minta royalti, menuntut sy, maka repot sekali sy.
sy bukan penulis fiksi yg baik. novel2 sy tdk layak memenangkan penghargaan apapun, karena terlalu sederhana, tanpa pernak-pernik kedaerahan setempat, tanpa dialek aslinya, pokoknya tidak keren. sy ini persis seperti bakwo2 sy dulu waktu sy masih kecil. hanya pendongeng. dan sejatinya, pendongeng hanya fokus pada cerita serta pesan moral. dia tidak tahu teknis, teori, dan sbgnya ttg menulis yg baik. tdk punya ilmunya. jadi kalau ada yg merasa novel delisa itu tdk memadai sbg karya sastra, memang sejak awal novel itu tdk diniatkan apalagi dibangga2kan sbg karya sastra.
terakhir, kalau ada yg keberatan sy menggunakan Aceh, musibah tsunami sbg setting tulisan delisa, dianggap mendompleng, membonceng, mencari untung royalti dr peristiwa tsb maka sy minta maaf. jika ada orang2 yg menuntut agar sebagian royalti tulisan itu diserahkan ke Aceh, ke korban2 tsunami, sy sekali lg minta maaf. besok lusa, mungkin sy akan menghindari menggunakan Aceh sbg setting cerita. sy akan memilih tempat lain sj yg tdk keberatan. bagi pendongeng seperti kami nih, semua tempat, benda, sesuatu, kadung memunculkan ide. terlanjur menjadi wadah sebuah dongeng tanpa perlu alasan pasti. sy minta maaf kalau itu mengganggu.

 

Advertisements

Please, Correct Me If I'm Wrong :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: