Bukan Nicholas :D

Gara-Gara Duren..!! :L

In Fiksi on May 23, 2013 at 05:29

Gambar: cintagazzana.blogspot.com

Braakk!!!

Sebuah tas tangan terlempar begitu saja di atas meja kerjaku. Bersamaan dengan itu tubuh seorang wanita terhempas di sofa yang berdekatan dengan mejaku.

“Kenapa lagi to, Wi”

“Gag usah kawin! Gag enak!”

Wanita itu adalah Dewi, temanku semasa pascasarjana dulu. Namun Dewi mengundurkan diri meninggalkan Tesisnya, dan memilih menikah dengan ….. Ah, entah siapa. Lelaki yang mempersuntingnya itu seingatku bukan mantan kekasih Dewi. Aku malah baru pertama kali melihatnya di pernikahan sederhana mereka. Yaa, terbilang sederhana, padahal Dewi adalah anak pengusaha kaya raya, demikian pula lelaki yang kemudian menjadi suaminya itu adalah seorang dosen di Universitas ternama.

Setelah berselang cukup lama, aku baru memahami alasan mereka. Ini adalah pernikahan pertama untuk Dewi, sedangkan untuk Irvan, ini merupakan pernikahan kedua. Yaa, Irvan adalah seorang duda dengan seorang putra berusia 5 tahun.

“Suami kamu kenapa lagi sih, Wi?”

“Sebelum nikah, saya tanya alasan mereka bercerai. Irvan bilang mantannya itu keras, cemburuan, posesif, curigaan. Tetapi semakin saya mengenalnya, sifat Irvan yang awalnya kupikir adalah lelaki baik dan pengertian, ternyata sangat bad temperamen dan posesif. Saya menjadi bingung banget dan akhir-akhir ini kita sering kali bertengkar.”

“Belum lagi anaknya itu. Sumpeh deh! Nakal banget! Kurang ajar! Kamu kan tahu, saya suka sama anak-anak kecil.  Tetapi saya angkat tangan sama anaknya. Saya gak klop sama anaknya. Males aja gitu. Saya belum melendung, eh sudah harus ngurusin anak orang yang segitu badungnya….”

“Apa lagi keluarganya sangat underestimate sama saya. Mamanya itu lohh terlalu banyak ngatur dan cerewet banget. Kalau ada acara ngumpul dengan keluarga besarnya, saya seperti gag dianggap ada. Kayak kambing bego ajah gitu, dicuekin.”

Rentetan kalimat yang keluar dari mulut Dewi seolah tak ada habisnya. Wajah cantik itu terlihat mendung. Sesekali bibir merahnya mengepulkan asap rokok yang kini terselip di jari lentiknya. Otakku mengimajinasikannya seperti kereta api yang meliuk-liuk panjang seolah tak terlihat akhirnya, ditambah dengan gumpalan-gumpalan asap itu. Ahh, sejak kapan Dewi merokok? Seingatku ia adalah wanita manis yang tidak menyukai asap rokok.

“Wi. Menikah itu bukan hanya pernikahan antara dua manusia, tapi menyatukan dua keluarga. Keluargamu dan keluarganya Irvan. Kamu juga gag boleh egois, selalu ingin dinomorsatukan oleh Irvan. Kalau kamu sayang bapaknya, kamu harus sayang juga sama anaknya.”

“Kalau kamu pintar membimbingnya dan berlaku penuh kasih sayang sebagai seorang ibu, pasti mereka  juga akan sayang  padamu. Percayalah! Ini hanya masalah waktu. Bagaimanapun, anaknya itu kelak akan menjadi tanggung jawabmu juga toh.”

Aku mengakhiri kalimatku sembari mencomot rokok yang hendak dihisap untuk kesekian kalinya oleh Dewi. Namun Dewi bangkit dari sofa, dan meraih tas tangannya. Ia menoleh padaku sejenak.

“Pokoknya gag usah! Kawin itu gag enak!”

Kemudian ia melenggang meninggalkanku menuju pintu keluar. Hanya suara sepatu high hillsnya terdengar beradu dengan lantai, bergema memenuhi lorong.

***

Percakapan di sebuah Lobby.

Advertisements

Please, Correct Me If I'm Wrong :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: