Bukan Nicholas :D

To be continued: Lazhuardi

In Fiksi on June 11, 2013 at 06:09
selendanghitamrusie.blogspot.com

gambar: selendanghitamrusie.blogspot.com

“Berjanjilah! Bahwa kita tidak akan bertemu….”
“Janji macam apa itu?”
“…. Bila kita di satu tempat, berusahalah untuk segera pergi. Bila kita berpapasan di jalan, carilah jalan lain. Bila kita bertatapan, berpura-puralah tidak mengenalku.”
“Tentu saja aku akan menemuimu. Dan kita bukan hanya akan berada di satu tempat atau berpapasan saja, bahkan tidak seinchipun kan kubiarkan kau jauh dariku.”
“Tidak, Ardi! Berjanjilah demi ….., Demi apapun yang paling kamu sayangi.”
“Demi kamu?”
“Siapapun..!!”
“Baiklah! Lazhuardi berjanji, demi kamu!”

Klikk!!

Benda pintar yang selama ini meleburkan jarak itu memberikan tanda berhenti mengirimkan gelombang suara dari seberang. Lelaki itu masih saja menyantap kegelapan malam melalui celah gorden yang ia singkap. Tatapannya menerawang menembus bayang-bayang pepohonan yang tercipta dari pijaran lampu jalan. Masih terngiang-ngiang suara kekasihnya, berbalut isakan perih. Ia tahu, perpisahan yang diminta oleh perempuan itu tak keluar dari hatinya, tapi karena keadaan. Karena satu sama lain takut saling menyakiti, meskipun gelombang cinta mereka belum benar-benar padam.

Aku harus apa?” Tanya lelaki itu pada angin.

Sang anginpun menjawab dengan hembusan kencang, membuat pepohonan di jalanan itu menari-nari. Langit tak dihiasi bintang. Sebagian ilmu alam percaya bahwa pertanda itu menunjukkan bahwa langit tengah berjanji menitikkan hujan. Yah, serupa janjinya pada wanita di belahan bumi yang berbeda dengannya.

Lelaki itu tersenyum, seolah puas dengan jawaban sang angin. Segera ia membuka lemari, memindahkan beberapa lembar pakaian dan perlengkapan lainnya ke sebuah ransel Polo merah tua.

***

Dari balik jendela kereta Argo Parahyangan yang angkuh menerobos malam, sang bintang masih juga tak nampak. Tujuan lelaki itu kali ini adalah Dago, tempat terakhir ia bertemu dengan kekasihnya. Keriuhan khas Dago di malam Minggu itu masih lekang di ingatannya.  Banyak stasiun radio yang turun ke jalan meliput aksi-aksi kreatif ala anak muda Bandung hingga pertunjukan atraksi kesenian yang diadakan secara spontan. Bahkan seorang artist ibu kota, yang wajahnya cukup sering terpampang di televisi ikutan ngamen di jalan untuk memeriahkan suasana. Namun semua itu, tak kalah menyenangkan karena ia sedang ditemani oleh seorang wanita yang tak lepas menggenggam tangannya sepanjang jalan.

Setelah menyusuri kawasan Dago tanpa gairah, ia memilih memasuki sebuah Thee Huis peninggalan kolonial Belanda. Banyak pengunjung lain sudah lebih dulu sampai di tempat ini. Mungkin mereka ingin menikmati berbagai kegiatan kesenian dan budaya yang diadakan oleh teaternya atau sekedar melahap panorama kota Bandung dari ketinggian Dago. Namun pikiran lelaki itu mengembara ke tempat lain. Bajigur yang dipesannya beberapa waktu yang lalu, mulai dingin. Otaknya masih saja menimbang-nimbang, benarkah keputusannya kali ini.

“Wisnu, saya di Dago. Bisa jemput?”

Setelah mendengar kesanggupan dari lawan bicara, ia kembali memasukkan benda pintar itu ke kantong celananya. Apapun yang akan ia lakukan esok, tubuh dan otaknya lebih menuntut perhatian. Ia letih, dan membutuhkan lebih dari sekedar tempat nongkrong ini untuk beristirahat. Ia memutuskan untuk menginap.

***

Pesta sudah dimulai. Para tamu mulai berdatangan memenuhi areal belakang rumah yang bercat kuning gading itu. Nampak  pinggiran kolam renang dihiasi berbagai pernik dan lampu kelap-kelip. Di salah satu meja, terpampang sebuah kue tart cantik berhiaskan lilin-lilin mungil yang ditiup si empunya acara beriringan dengan lagu “Selamat Ulang Tahun” dari para tamu. Satu persatu tamu kemudian menyalami si empunya acara. Namun, tamu yang ditunggu lelaki itu belum juga muncul.

“Kamu yakin dia akan datang?” tanyanya pada lelaki yang berdiri tak jauh darinya.
“Irene itu sahabat karibnya Satiyah. Mustahil bila ia sampe tak datang.” Jawab lelaki yang ditanya.

Tak lama kemudian, sekumpulan wanita memasuki areal pesta. Seorang dari mereka menggunakan terusan merah maroon, dengan wajah sumringah. Mereka melewati tempat dimana lelaki itu berdiri, namun keberadaannya terhalangi tetamu lain yang lalu lalang. Mereka menghampiri yang sedang berulang tahun, memberikan sebuah kado, lalu saling membalas ciuman pipi kiri dan kanan. Lelaki itu terus saja memperhatikan wanita bergaun merah, sambil sesekali menyapu keringat di keningnya dengan kain segi empat yang mulai lusuh.

Ketika sang wanita bergaun merah itu terlihat sendirian memilih makanan yang tersaji di meja pesta, lelaki itu mendekat. Ia memegang lengan wanita itu dengan kuat dan setengah menarik agar mengikuti langkahnya.

“Tolong, ikut saya sebentar.”
“Kemana?” tanya wanita itu setengah panik, setengah pasrah mengikuti lelaki itu.
“Ikuti saja.” Lelaki itu setengah memerintah.

Setelah mengenali suara lelaki yang menyeretnya, wanita itu mengurungkan niatnya untuk berteriak. Ia merasa aman, meski entah apa yang akan terjadi pada dirinya nanti. Ia percaya lelaki itu tidak akan melukainya. Lelaki itu terus saja membawanya hingga ke areal parkir. Di sana, sudah menunggu sebuah taksi yang siap mengantarkan mereka.

“Apa-apaan ini, Ardi?”
“Kita akan ke luar kota.”
“Kamu gila! Kalau teman-teman mencariku bagaimana?”
“Yah, kabari saja mereka bahwa kamu pulang duluan.”

Taksi yang mereka tumpangi, berhenti di Stasiun Bandung. Setelah membayar sejumlah argo yang tertera, mereka pun bergegas turun. Masih ada waktu 10 menit tersisa sebelum kereta yang akan mereka tumpangi berangkat. Penculikan ini memang telah dipersiapkannya dengan sangat matang. Tiket itu ia beli beli sewaktu baru saja sampai di stasiun ini kemarin.

“Kamu tidak menepati janji, Ardi!”

Lelaki itu terdiam mendengar kalimat wanita itu. Dia kembali menilik dua tiket kereta digenggamannya, seolah-olah huruf-huruf yang tertata di sana akan berubah dengan tatapannya. Batinnya berbisik “aku harus bagaimana?”. Lagi-lagi sang angin menjawab dengan hembusan kencang, seolah mengingatkannya pada janji langit.

“Lihat! hari akan hujan. Kita masih punya waktu beberapa menit lagi. Jika sebelum berangkat, langit menumpahkan hujan saya akan berangkat sendirian. Jika tidak ada setetes hujanpun, kamu harus ikut dengan saya.”
“Kenapa saya harus mengikutimu? Menuruti rencana-rencana bodoh ini.”
“Karena kamu mencintai lelaki bodoh di hadapanmu ini.”

Tepat setelah menyelesaikan kalimatnya, peluit panjang tanda kereta akan segera berangkat terdengar. Lelaki itu kembali mencekam erat lengan perempuan di sampingnya, menariknya masuk ke gerbong yang perlahan-lahan mulai bergerak.

***

(To be continued)

“Jika langit tidak berbintang kemudian angin pun berhembus kencang, kamu tahu itu pertanda apa?”
“Menurut para ahli Klimatologi, itu pertanda malam akan turun hujan.”

“Lalu, kenapa malam ini langit tidak memenuhi janji untuk menurunkan hujan?”
“Mungkin belum? Mungkin hujan baru turun beberapa saat setelah kereta melaju?”

“Atau memang langit tidak akan meneteskan hujan. Bukankah kita juga tahu bahwa langit mendung tak berarti hujan? “
“Kenapa begitu? Apa para pakar itu salah?”

“Karena ia adalah Langit. Ia tak selalu menepati janji.”
“Hmmm… Seperti Lazhuardi yang berarti Langit. Kamu juga berjanji seperti Janji Langit..! Itu kan maksudmu?”

“Langit toh memberi hujan, meski terik matahari sedang menyengat. Bahkan perpaduan keduanya memancarkan warna pelangi yang cantik.”
“……”

“Lazuardi akan menuruti permintaanmu. Tetapi nanti. Ketika aku meregang nyawa.”

***

**

*

Di tulis di bawah Langit tanpa hujan & bintang, 11 Juni 2013.

Terinspirasi dari Cerpen: Janji Langit oleh Theresia Aniek Soetaryo.

Advertisements

Please, Correct Me If I'm Wrong :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: