Bukan Nicholas :D

Pempek VS CekerAyam

In Fiksi on July 21, 2013 at 10:47

Gambar: facebook.com

Pada sebuah taman, yang diteduhi pepohonan rindang. Seorang lelaki dan perempuan sedang duduk bercengkrama sambil menikmati sore yang hangat.

“Bolehkah, Dwinda?” tanya lelaki itu pada perempuan di sampingnya.

“Hmm..  Aku hanya takut kamu mengulangi hal yang sama. Kamu tahu kan, aku yang hari ini masih perempuan yang sama seperti yang kamu kenal beberapa tahun lalu.”

“Aku tahu, karena itulah aku ingin.”

“Tapi dulu kamu yang tidak menginginkannya.”

“Mungkin dulu aku keliru. Sekarang aku ingin mencobanya, tolong percayalah padaku.”

“Kamu suka pempek, Dimas?”

“Ya, suka sekali. Pempek kapal selam. Kenapa kamu bertanya itu?”

“Suatu hari sekitar lima tahun yang lalu, seorang teman mengajakku membeli pempek. Aku belum pernah makan pempek sebelumnya. Temanku bilang, pempek itu sangat enak dan aku pasti akan menyukainya.”

“Laluu..?” tanya lelaki itu penasaran.

“Dengan persangkaan bahwa temanku itu benar, aku mencobanya. Waktu itu aku membayar dengan harga yang cukup mahal, tapi demi rasa yang enak aku rasa harga segitu pantas.”

“Kamu menyukainya?”

“Setelah aku mencicipinya, bukan hanya rasa tidak enak yang menyambut lidahku. Seketika perutku mual dan kepalaku pening.”

“Kenapa begitu?”

“Entahlah. Sudah lima tahun berlalu, dan sampai hari ini aku tidak pernah sekalipun memakan pempek lagi.”

“Mmhh.. Maksudmu, aku serupa pempek itu? Kamu pernah mencobanya dan rasanya tidak enak. Maka sekarang kamu tidak mau mencobaku lagi?”

“Kurang lebih begitulah..”

“Hahahaha.. Kamu konyol Dwinda!”

Perempuan itu menatap tajam lelaki yang sedang tertawa di hadapannya. Angin sore yang ramah seolah ikut tertawa dengan gemerisik gesekan dedaunan. Hanya perempuan itu yang nampak tidak suka. Ia lantas mengalihkan pandangan ke sepanjang jalanan di sekitar taman. Sepasang muda-mudi yang berjalan mesra mencuri perhatiannya. Kebahagiaan mereka terpancar dari senyum yang mereka pamerkan. Ahh, hati perempuan itu menjadi sendu. Harusnya ia juga sebahagia muda-mudi itu. Lelaki di hadapannya kini toh sedang berusaha meyakinkannya tentang kebahagiaan. Tapi..

“Dwinda.., aku jadi ingat beberapa tahun lalu. Sewaktu aku mengajakmu ke Warung Pak Danu. Kamu ingat?”

Perempuan yang ditanya hanya mengernyitkan alis, berusaha mengingat hal yang dimaksud oleh lelaki itu.

“Bukankah kita masih sering ke sana? Apa istimewanya?” tanya perempuan itu.

“Hehehe.. Menu yang pertama kali kamu coba waktu itu adalah Soto Ceker.”

“Hmmm..” Perempuan itu hanya berdehem, belum paham apa yang dimaksud oleh lelaki itu.

“Waktu itu kamu bilang, apa enaknya ceker ayam itu? Di kotamu ceker ayam tidak dimanfaatkan lagi sebagai bahan makanan dan hanya menjadi penghuni keranjang sampah.”

“Iya, itu benar.”

“Waktu kamu mencicipi soto itu, kamu memuntahkannya kembali. Kita tidak jadi makan disitu. Kamu ingat?”

“Hahaha.. dan kemudian aku jadi mogok makan soto untuk waktu yang lama yaa. Begitulah aku.”

Tawa perempuan itu terdengar hambar. Ia sedang menertawakan kesedihannya sendiri. Ketakutannya akan hal yang buruk membuatnya tidak berani mencoba sesuatu yang baru. Risk averse. Perempuan itu hanya nampak tegas namun sebenarnya rapuh. Perempuan yang terlihat tak bergantung kepada siapapun namun di relung jiwanya ia sesungguhnya kesepian. Perempuan itu hanya tidak ingin dipermainkan, maka ia tidak ingin terlihat lemah hingga dianggap mudah dijadikan mainan orang lain.

“Hmm.. dan di resepsi pernikahan Sugeng, aku memaksamu mencicipi soto ceker yang aku pilihkan untukmu.” lelaki itu melanjutkan ceritanya.

“Ya, aku ingat. Kamu sampai menjejali mulutku dengan ceker itu. Syukurlah rasanya tidak sama dengan saat pertama kali aku makan. Kalau tidak, aku pasti akan memuntahkannya lagi.”

“Sekarang kamu jadi maniak ceker ya.. Apapun bentuk makanan berupa ceker kamu pasti memburunya. Soto,  sate, sop, asam manis, dimsum, presto, gorengan, bakso.. dan yang kemarin kamu ceritakan itu.. aku lupa..”

“Ceker Barbeque? Kapan-kapan kamu harus mencobanya, Dimas. Itu lezat sekali.”

“Ahahaha. Kita akan menemukan menu-menu ceker lainnya nanti. Asalkan..”

“……”

Lelaki itu menggamit jemari perempuan di hadapannya. Sambil menatap ke dalam bola matanya, lelaki itu mencoba mentransfer rasa percaya melalui kehangatan dan sentuhan kulit tangan mereka.

“Seperti caramu jatuh cinta pada ceker, mungkin kamu juga perlu mencicipiku sekali lagi. Siapa tahu setelah itu kamu bisa jatuh cinta padaku.”

“Entahlah..”

“Nikmati aku lagi, Dwinda. Aku lebih lezat daripada ceker Barbequemu itu. Aku tidak akan menyianyiakanmu lagi.”

Advertisements

Please, Correct Me If I'm Wrong :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: