Bukan Nicholas :D

Dua Bulan, Kelak..!!

In Fiksi on December 16, 2013 at 19:22

Sosok di depanku tiba-tiba mengenaliku, sementara aku masih mencoba menggali ingatan tentangnya. Pria jangkung dengan rambut yang selalu terlihat rapi dan mengkilap adalah ciri khasnya. Kaca mata minus melengkapi penampilannya.

“Gilang?”

“Faby? Kamu ikut diklat juga?”

“Hehe.. Iya nih. Bagaimana kuliah kamu? Hebat dung sekarang gelarnya tambah panjang aja..”

“Biasa aja Fab. Kamu sendiri gimana, jadi ngelanjutin ke Ausie?”

“Hehe.. Aku gak jadi ngambil beasiswa itu.”

“Lohh.. Sayang sekali. Kenapa Fab?”

“Psstt.. Karena aku mo married dua bulan lagi.” Katanya setengah berbisik.

“Wah, selamat ya Fab..” Ucapku sumringah. Padahal jauh di relung sana hatiku terasa patah.

Ini pertemuan pertamaku dengannya setelah setahun …. umm atau mungkin dua tahun silam. Aku tak ingat pasti. Sewaktu aku masih menjadi mahasiswi di kuliah pascasarjanaku, dan ia sedang ditugaskan di kota yang sama denganku kala itu.

***

“Gimana Gilang, mau menikah denganku kan?” tanya Faby.

“Maaf Fab, kuliahku belum kelar. Ingin menyelesaikan tanggung jawabku dulu sebelum menikah.”

Dalam hati aku hanya bisa mendesah. Siapa wanita yang tak ingin menikah dengan lelaki serupa Faby. Tampan dan mapan. Meskipun ia seorang workholic yang menjadikan kantor sebagai kediaman utama. Aku rasa itu hanya pelarian, karena ia yang masih berstatus lajang. Dan aku dengan begonya menolak lamarannya.. Arrgghhh.. Pasti banyak perempuan di luar sana yang mengutukku karena itu. Namun hidup harus memilih bukan? Dan aku memilih menunaikan tanggung jawabku sebelum mengemban tanggung jawab baru.

“Tanggung jawab?”

“Iya.., Kasihan orang tuaku yang sedang susah payah membiayaiku kuliah jika semuanya menjadi terlantar. Aku juga resign dari kantor demi semua ini.”

“Aku bersedia mengambil tanggung jawab itu. Penghasilanku masih cukup untuk membiayai kuliahmu.”

“Bukan tentang duit, Fab. Tanggung jawabku sebagai anak saat ini adalah menuntaskan kuliahku, belum sanggup aku sandingkan dengan tanggung jawab sebagai istri. Jika harus menikah, aku ingin menjadi istri yang bertanggung jawab penuh kepada suamiku.”

“Bukankah setelah menikah, tanggung jawab ayah akan diambil alih oleh suami?”

“Kamu benar, Fab. Aku hanya tidak ingin mengambil risiko yang akan membuat kuliahku terlantar.”

“Jika kamu bersedia, aku akan menunggu hingga kamu siap.”

Dan demikianlah, seingatku pertemuan terakhirku dengan Faby. Percakapan melalui telepon menjadi sekedar saja. SMSpun kian menjadi basa basi. SMS terakhir yang aku ingat, adalah ucapan ulang tahun untuknya yang berselang sehari sebelum ulang tahunku.

Kemudian keakraban kami menjadi berjarak. Masing-masing hilang kabar. Faby pindah tugas ke kota ini, aku pulang kampung. Setelah penolakanku itu, aku memang sungkan untuk menemui Faby lagi. Ia sangat ingin menikah, dengan menjauh darinya aku harap memberikan kesempatan bagi wanita lain untuk mendekati Faby. Meskipun hubungan kami hanya sebatas persahabatan, tetapi antara dua manusia dewasa yang berlainan jenis. Cinta mungkin sudah bukan lagi konsumsi kami. Kebersamaan yang saling melengkapi membuat kami seperti terikat dalam hubungan mutualisme. Faby butuh wanita yang menyayanginya, dan aku butuh lelaki yang melindungiku. Kehidupan kota yang jauh lebih liar dari kehidupan asalku, membuatku sedikit bergidik. Kemudian Faby muncul seperti tameng tempatku berlindung. Kami tak pernah menamai hubungan kami. Maka ketika Faby melangkahkan kakinya untuk menjauh, tidak ada alasanku untuk menahannya.

Setelah lulus pun, aku sama sekali tak mencari tahu tentangnya. Aku hanya pernah mendengar berita kepindahannya ke Jakarta, itupun dari tak sengaja kudengar dari perbincangan seorang teman. Yahh, jika Faby memang milikku, ia pasti akan kembali padaku bukan? Dan tahu-tahu hari ini kami dipertemukan di kegiatan diklat yang diadakan oleh kantor pusat. Aku pikir ini adalah caranya Tuhan mengembalikan Faby padaku. Tetapi berita tentang pernikahannya membuatku tak lagi berharap.

***

Aula

“Gimana persiapan pernikahan kamu?” tanyaku berbasa-basi. Padahal hatiku meringis, hiks.

“Belum banyak sih. Cetak undangan ajah belum, Hahaha..”

“Wah kamu harus mengirimkan untukku, Fab. Awas ajah kalau kamu gak mengundangku.” Aku mengancamnya. Hah, jika diundangpun aku akan mencari seribu satu alasan untuk tidak hadir.

“Tentu saja, Gilang.” Iya berjanji.

Kegiatan diklat ini sangat menyiksaku. Secara kebetulan nama kami di absensi diurutkan berdasarkan abjad, dimana namaku yang berawalan G berada tepat di bawah namanya yang berawalan F. Hampir di setiap kegiatan yang memerlukan tim, aku dipasangkan dengan Faby. Quality time tentu saja, tetapi buat apa lagi?

Faby yang kutemui kali ini, masih seperti Faby yang kuingat dulu. Faby yang cuek, acuh, dan.. posesif. Kami seperti sepakat untuk tidak pernah membicarakan masa lalu. Tetapi, ruang makan yang hanya terdiri dari satu ruang, membuat jam istirahat pun masih harus bersamanya. Piring makan diambilin, menu makan dipilihin, dilarang makan ini itu. Dia masih hafal semua tentangku, ironis dengan aku yang berusaha memaksa otakku untuk menghapus semua tentangnya.

Di sana, sudah ada calon istri yang menunggunya pulang. Sedang aku? Kegiatan ini harusnya menjadi kesempatanku menebar pesona dengan lelaki-lelaki mapan peserta diklat itu. Faby membuatku tidak bisa berkutik. Namun, kekesalanku terhadap sikap Faby kusimpan rapat-rapat di dalam hati.

Meskipun teman-teman mulai menyangka kedekatanku dengan Faby serupa cinta lokasi. Hanya pada teman sekamarku Hannah aku membantahnya.

“Faby adalah sahabatku sewaktu di Jogja. Dia memang begitu dari dulu, posesif. Hehehe..” penjelasan yang kuakhiri dengan tawa tanpa rasa. Hambar.

***

Tidak terasa diklat yang berlangsung dua minggu berakhir hari ini. Suasana perpisahan mengharu biru. Meskipun mengenal mereka hanya dalam waktu singkat, persahabatan yang terjalin sungguh erat. Diklat ini sukses mengakrabkan instansi dari beragam wilayah. Tapi hey, mana Faby? Selama acara perpisahan kami belum bicara. Tidakkah ia ingin berpamitan denganku?

Aku angkat koperku melewati bagian jalan yang tidak bertrotoar menuju gerbang. Pulang. Baru kemudian aku melihat Faby dengan tas ranselnya.

“Perlu bantuan, Gi?”

“No, thanks. Ransel kamu ajah udah berat gitu.”

“Hahaha.. Nona sok mandiri. Gak juga berubah dari dulu.”

“Oya Fab, … Jika saja ada waktu ingin sekali mengenal calon istrimu. Yah, siapa tahu kita bisa bersahabat juga seperti aku dan kamu.”

“Oh, itu. Hehehe..”

“Kenapa tertawa, Fab?”

“Ya.. Ya.. Aku akan menikah.” jawabnya enteng.

Aku tidak lagi menghiraukan ucapan Faby, atau entah aku yang ingin menyembunyikan perih yang menyerang hatiku. Aku sibuk membuka peta Jakarta yang kubawa, dan mencoba menghafal kembali halte-halte TransJakarta yang akan kulalui menuju Stasiun Gambir.

Sebuah kotak berwarna gading tersodor di atas peta yang sedang serius kuamati. Perhatianku menjadi teralih. Aku mendongak melihat Faby yang sedang menatapku.

“Pernikahan itu akan terjadi, jika kau tidak menolak lagi lamaranku hari ini. Aku pernah berjanji untuk menunggumu, bukan?”

***

(Terinspirasi dari seorang teman yang berkata: “Aku akan mengumpulkan uang untuk menikah tahun depan. Jika pun bukan dengan pacarku hari ini, aku sudah siap menikah dengan pacarku yang akan datang.Quote macam apa ini (_ _”). Yahh, siapapun jodohnya, yang penting kita mempersiapkan diri untuk menerimanya. Jangan sampai telah diberi, namun kita masih dalam keadaan belum siap menerima.)

Horrayy….
1.000 kata mameenn.. tanpa draft..!!! 

Advertisements

Please, Correct Me If I'm Wrong :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: