Bukan Nicholas :D

Olive

In Fiksi on February 1, 2014 at 00:57

Olive

Picture from: firstworldfacts.com

“Sarass..!!!” teriakku ketika melihat perempuan berdarah Perancis itu.

“Alayyaa..” teriaknya tak kalah kencang, menarik perhatian pengunjung salah satu mall terkenal itu..

Kami berpelukan dengan hangat. Tubuh Perancisnya yang menjulang sangat kontras dengan tubuh indonesiaku.

“I miss you dear” kataku.

“Hehehe.. I miss you too dear.”

“Sudah berapa lama kamu di Indo? Tidak mengabariku.”

“Hampir sebulan, maaf. Blackberryku hilang beberapa waktu lalu.”

“Okey, dimaafkan. Asal kamu mentraktirku makan siang.”

“Don’t worry. Malah aku akan memaksa bila kamu tidak memintanya.. hehe..”

Di dalam sebuah café.

“Dalam rangka apa kamu ke Indonesia? Pasti bukan liburan, karena setauku Joshua sedang tugas ke India.”

“Iyahh, karena si workaholic itu terlalu sibuk, maka aku yang mengalah mengambil waktu cuti untuk ke Indonesia.”

“Hmmm…”

“Mempersiapkan pernikahan kami..”

“Wooww… Josh tidak pernah mengabariku.”

“Yahh, maklumi saja. Dia terlalu sibuk.”

“Selamat ya Saras.. “

“Yaa.. akhirnya aku mendapatkan pangeran impianku. Kamu tahu, dia sangat sulit ditaklukkan. Padahal kami menghabiskan masa kecil bersama di Perancis.”

“Begitulah lelaki.”

“Ahh.. Alayyaa.. waktu kecil aku suka sekali berhayal menikah dengan lelaki serupa Josh. Bermata hijau, dada bidang, rambut ikal coklat, dan kulit indonesianya sangat membuatku jatuh cinta. Aku sangat terobsesi padanya.”

“Dan kini kau mendapatkanya.. Hahaha”

“Dan juga mendapatkan ini..”

Sarass berkata sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit.

**

Beberapa bulan kemudian.

Ketukan di pintu yang sangat tidak sabaran membangunkanku tengah malam begini. Aku menuju pintu dengan kesal.

“Joshh..!!”

Aku terbelalak melihat lelaki bertampang acak-acakan di hadapanku. Bau alcohol menguar dari tubuhnya. Oh tidak, bahkan dia masih memegang botol Jack Daniels yang masih berisi setengahnya.

“aku kalah Alayaa..!!” katanya setengah ambruk padaku.

“kamu mabuk Josh..”

Sekuat tenaga memapah atau lebih tepatnya menyeret tubuh raksasanya ke sofa kecilku.

“aku kehilangan Olive. Persidangan memutuskan Olive berada dalam asuhan perempuan itu.”

“Mungkin itu yang terbaik Josh.. Olive masih bayi, dia lebih membutuhkan ibunya.”

“Tapi Olive milikku. Kamu lihatkan mata hijaunya, dan rambut coklatnya sangat mirip denganku.”

“Tentu saja Josh. Dia kan anakmu.”

“Dia lebih menyerupai anak Indonesia daripada anak Perancis. Dia harusnya di sini bersamaku, jika saja perempuan keras kepala itu tidak merebutnya dariku.”

“Aku menyesalkan perceraianmu dengan Saras. Tidak bisakah sedikit saja kau menahan egomu?”

“Perempuan itu yang meninggalkanku… Jangan kamu lupakan itu”

“Ya.. dan harusnya kamu berjuang untuk itu, mempertahankan rumah tanggamu. Olive yang malang harus menanggung penderitaan yang sama dengan yang kamu alami di masa kecilmu.”

“Aku akan merebutnya Alayya.. Aku akan naik banding.”

**

“Aku tidak mengerti Sarass.. Bukankah kamu sangat terobsesi kepada Joshua. Kenapa kamu malah meninggalkannya?”

“Josh lebih memilih tinggal di Indonesia daripada di Perancis.”

“Setelah ayahnya meninggal, bukankah Josh tidak memiliki keluarga lagi di Perancis. Mungkin itulah alasan dia memilih Indonesia, untuk menemani ibunya.”

“Bisa jadi.. Aku sempat berpikir untuk pindah ke Indonesia.”

“Lalu..”

“Josh itu penuh kejutan. Liburan natal tahun lalu. Di dalam lemari Josh, tidak sengaja aku menemukan kotak perhiasan yang di dalamnya terdapat sepasang cincin berlian.”

“Hadiah natal untukmu pastinya?”

Saras menggeleng.

“Aku mendapatkan gaun pesta biru dongker darinya. Aku merengek menginginkan gaun itu di sebuah butik, dan ia membelinya sebagai hadiah natal untukku.”

“Dia menuruti semua keinginanmu ya, Sarass. Bukankah kamu beruntung mendapatkannya.? “

Sarass hanya tersenyum mendengar pertanyaannku

“Ceritakan Alayya.. Kamu mendapatkan hadiah natal apa dari Josh. Dia sangat menyayangimu bukan?”

“Hmm.. kamu tahu kan, aku tidak merayakan natal seperti kalian.”

“Oh maaf, aku lupa. Mungkin hadiah lebaran tahun lalu?”

“Seingatku tidak ada, Saras. Josh hanya mengambil cuti beberapa hari dan menemaniku mudik ke Lampung. Katanya dia rindu opor ayam buatan mamaku.”

“Oh ya?”

**

Selembar undangan berwarna hijau lumut, ku tunjukkan padanya. Di bagian depannya tertulis dengan tinta emas 28 Februari 2014

“Apa ini Alayyaa.. Baru kali ini kamu merayakan ulang tahun dengan pesta segala.”

Kata Josh sembari mengamati undangan itu tanpa berniat membukanya.

“Iya.. kamu harus datang Josh..”

“Heyy.. kayak sama siapa aja.. aku akan datang meskipun tidak menggunakan undangan segala. Ohh Alayyaa.. rasanya aku sudah membayangkan hadiah yang tepat untuk ulang tahunmu.”

“Sepasang cincin berlian yang salah satunya bertuliskan namaku.. Indah yaa..”

“Ba.. Bagaimana kau tau tentang itu Alayyaa..??”

“Tentu saja…Kareem akan memberikanku hadiah itu.”

“Kareem? Siapa dia..?”

“Aku menerima perjodohan yang dilakukan oleh orang tuaku dengan anak sahabatnya, Kareem. Itu pesta ulang tahunku yang bertepatan dengan hari pernikahanku..”

“Ka.. Kamu akan menikah Alayyaa?? “

**

Ketukan di pintu yang sangat tidak sabaran membangunkanku tengah malam begini. Aku sudah menduga dia pasti datang, dan selalu begini..

“Alayyaa…”

“Kamu selalu begini kalo mabuk.. Kontrol dirimu Josh..”

Aku memapahnya dengan susah payah. Menyusahkan saja lelaki ini jika mabuk begini. Dia menolak saat aku mengajaknya ke sofa. Dia malah terduduk di lantai, setengah berlutut di hadapanku.

“Jangan tinggalkan aku.. Alayyaaa.”

Mau tidak mau aku ikut duduk dengannya. Mata kami bersejajar. Aku menatap ke dalam matanya, ada luka yang terpancar.

“Aku tidak kemana-mana Josh..”

“Batalkan rencana pernikahanmu dengan Kareemm. Kamu tidak boleh menikah dengannya.”

“Kenapa? Joshh?? Aku juga ingin memiliki keluarga kecil. Aku juga ingin memiliki Olive-Olive yang lucu.”

“Aku mencintaimu, wahai Alayyaa Lukman. Kenapa kamu lebih memilih Kareem orang yang tidak kamu kenal itu? Kenapa bukan akuu?”

“Kamu sahabatku Joshua Aditya. Sahabat tersayangku. Yang terbaik yang pernah aku punya.”

“Apa dua orang sahabat tidak boleh saling mencintai.?”

“Boleh. Sangat boleh. Tetapi tidak dengan kita. Pondasi kita berbeda, bagaimana mungkin bisa berada pada satu atap??”

“Ta.. tapiiii…”

“Sudahlah Josh..!! Jangan egois..!! Kembalilah pada Sarass. Olive masih sangat membutuhkan kalian.”

Aku mendekat dan memeluk tubuh yang sedang bersimpuh di hadapanku itu. Lalu aku mengucapkan sebuah bisikan padanya.

“Terima kasih, karena pernah mencintaiku.”

***

Draft 12 Desember 2013
Kangen nulis cerpenn.. Huhuhu..

Advertisements
  1. […] pernah baca cerpen saya yang berjudul “olive“? Sebenarnya tokoh Olive, Joshua dan  Sarass adalah tokoh nyata yang namanya saya samarkan. […]

Please, Correct Me If I'm Wrong :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: