Bukan Nicholas :D

Sepanjang Jalan, Terkenang

In Fiksi on May 6, 2014 at 18:25

Picture: odishalahuddin.wordpress.com

Di sebuah taman yang cukup ramai, aku menemukan wajah yang tak lagi asing. Dia berjalan dengan santai dan mantap, sepertinya belom sadar keberadaanku yang telah berada di depannya. Setelah jarak beberapa meter, dia baru terperangah. Aku menangkap basah bola matanya tengah menatapku. Dia masih berjalan mantap, namun tak lagi santai. Dia melaluiku sambil berpura-pura sibuk dengan handphone digenggamannya, berpura-pura seperti tidak menyadari sedang berpapasan denganku.
Tapi aku.. Yah aku perempuan yang mungkin akan kalian cap “jalang”, menyambarnya dari keramaian. Kupegang lengannya setengah mencekal, aku menyeretnya menepi dari keramaian taman. Aku menggelendot nyaris manja dipinggulnya, namun tubuh itu hanya tegang dan dingin, seperti ada gemuruh amarah tersembunyi di dalamnya.
Sial bagiku, karena setiap sudut taman nyaris dipenuhi pengunjung. Aku setengah putus asa berkata sambil menatapnya,

“Kita kemana?” tanyaku lemah.

“Ke sana saja” jawabnya sambil menuntunku ke arah dari mana dia datang tadi.

Ke mana itu? Ke rumahnya?.. Entahlah.. Kali ini ia lah yang menggeret lenganku. Aku tertatih-tatih mengikuti langkahnya yang tergesa-gesa. Namun baru beberapa langkah, otakku sigap bekerja mengingat sesuatu. Lalu aku mematung, menghentikan langkahnya yang terlihat susah menggeretku.

“Jangan ke sana” kataku pelan.

Dia menatap tajam, seolah tidak suka dengan penolakanku.

“Di sana ada Be” jawabku dengan takut.

Aku ingat, perempuan yang kusebutkan namanya itu sedang berada di pinggir jalan di depan sana untuk urusan yang tidak sebentar. Maka hampir bisa dipastikan perempuan itu masih ada di sana sekarang. Seperti memahami apa yang aku takutkan, lelaki itu pun mengganti haluan dan kembali menyeretku.
Dia memutar langkah ke arah mana yang menjadi tujuannya sebelum berpapasan denganku. Perjalanan yang membutuhkan waktu ribuan detik itu berlangsung santai. Aku merengkuh pinggulnya. Erat. Mentransfer rindu yang kian membuncah di dadaku. Aku tak ingat dengan pasti berapa lama sudah kami tak lagi bersua. Setahun.. Ah mungkin juga dua tahun.. Semenjak laman facebookku kututup darinya.

“Kamu jahat..” katanya tegas, sembari merengkuh bahuku. Hangat.

“Kamu tidak mengijinkanku mengetahui kehidupanmu lagi. Pesan-pesanku pun tak lagi kau balas.” lanjutnya sambil menarikku kerengkuhannya semakin erat. Tubuh itu semakin kurus dan legam, tersembunyi kerapuhan yang selama ini ia tutup-tutupi. Kami seperti sepasang merpati yang sedang memadu kasih. Padahal masing-masing kami berlinangan air mata. Ada kesedihan yang membuat sisa perjalanan kami membisu. Hanya ada kehangatan dari kulit kami yang bersentuhan di dalam rangkulan, yang masih menandakan kami masih bersisian.

Jalan semakin sepi, tak nampak orang berlalu lalang. Taman yang kami tinggalkan tadi sudah tak terlihat di belakang. Haripun semakin petang.

“Kita mau kemana?” tanyaku memecah sunyi.

“Ada sebuah universitas di depan sana. Ikutlah bersamaku.” jawabnya.

“Tapi Pey, hari sudah akan malam. Kalau telat kembali, aku takut tidak mendapatkan bis untuk pulang.”

Langkahnya terhenti, Ia terlihat setengah berpikir.

“Baiklah, kamu boleh kembali.” katanya dingin sembari melepasku.

“Lalu kamu? Mau kemana?” tanyaku setengah kecewa.

Aku sebenarnya tak harus takut ketinggalan bis, jika saja dia bersedia mengantarku pulang. Ini kotanya, dan aku di sini tak lagi ingat untuk urusan apa.

“Aku masih ada urusan di universitas itu..”

“Aku pulang ya, Pey!?” tanya..? Ataukah pernyataan yang terlontar dalam ucapanku. Masih ada perasaan enggan berpisah yang aku cemaskan.

“Aku pergi.” pamitnya tanpa menoleh padaku.

Langkah kakinya berjalan mantap ke arah universitas yang ia maksud. Aku menatap tubuhnya yang semakin lama semakin hilang di antara remang-remang pepohonan. Aku masih berharap ia sesekali menoleh padaku dari kejauhan. Namun aku lagi-lagi kecewa.

Akupun mulai melangkahkan kaki dengan gontai kembali ke arah taman. Hampa.

Posted from WordPress for Lynn(A)droid

Advertisements

Please, Correct Me If I'm Wrong :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: