Bukan Nicholas :D

Archive for June, 2017|Monthly archive page

Ah, cuma sunnah. 

In Kutipan :) on June 28, 2017 at 19:32

Kalau kita ditanya apa arti sunnah, pasti jawabannya “kalau di kerjakan dapat pahala, kalau tidak di kerjakan tidak apa-apa.” 

Padahal kalau kita mengerjakan sholat sunnah rawatib 12 rakaat, Allah menjanjikan rumah di surga. Bayangkan kalau kita mengerjakannya setiap hari. Yakin nih enggak apa-apa di tinggal?

Kalau kita sholat sunnah fajar, pahalanya lebih baik dari dunia dan seisinya. Yakin nih enggak apa-apa?

Seseorang yang sholat tahajud, Allah mudahkan urusannya, doa-doanya terkabul, Allah angkat derajatnya ke tempat yang terpuji, dijamin masuk surga dan selamat dari adzab neraka, dicatat sebagai orang yang berdzikir kepada Allah. Yakin nih enggak apa-apa ditinggal?

Kalau kita sholat dhuha, sudah mencukupi sedekah 360 persendian dan Allah jamin rezekinya. Yakin nih enggak apa-apa?

Seseorang yang sholat ke masjid, tiap langkahnya diangkat satu derajat dan dihapuskan satu dosa sampai ia masuk masjid. Apabila ia di dalam masjid, dianggap mengerjakan sholat selama menunggu hingga sholat dilaksanakan, dan malaikat mendoakannya. Yakin nih enggak apa-apa ditinggal?

Seharusnya di mindset kita bukan lagi “kalau di kerjakan dapat pahala, kalau tidak di kerjakan tidak apa-apa”, tapi diganti menjadi “kalau di kerjakan dapat pahala, kalau tidak di kerjakan akan RUGI.” 

Kata-kata “ah, itu cuma sunnah” dari setan yang membisiki, agar kita tidak melaksanakan amalan-amalan tersebut. Seharusnya saat ini lah waktunya kita berlomba-lomba mengumpulkan amal sholeh mumpung masih di dunia, karena kematian bergerak konsisten kepada kita dengan kecepatan 60 detik/menit tanpa pernah berhenti untuk beristirahat.

Wallahu a’lam bisshawab
Regrannfrom@sithaamira

​The Power of Jilbab.

In Randomized on June 12, 2017 at 10:54

Ada yang bilang, nanti ajah pake jilbabnya kalo udah “bener” sikapnya. Banyak temen saya yg pake jilbabnya karena trend ajah, ke kantor bejilbab, pulang kantor celana pendek. Pake jilbab, tapi bajunya lengan pendek. Pake jilbab, tetapi kelakuannya tidak terpuji. Dan bla bla lainnya, sehingga sering dicemooh “mending gak usah bejilbab”.

Eh tapi, banyak dari temen saya yg demikian, yang semula anak dugem, sekarang bahkan gak    ke diskotik lagi. Yang semula merokok, sekarang berhenti. Yang semula wara-wiri singapur-jepang, sekarang mekah-madinah. Bodo amat sama yang bilang “sok alim”.

Banyak dari temen saya itu pelan-pelan  berprilaku baik, semakin baik, semakin terpuji. 

Lihatlah, jilbab yang tadinya dipake disaat  belum “bener”, ternyata bisa menjaga kita, menjaga pergaulan kita, kelak semoga mengumpulkan kita dengan orang-orang shalih. 

Kesimpulannya: teman saya banyak. 😁

Sekian. 

#efekstalkingtemendiefbe #iyaahsayabukaefbelagi #karenakamu #dampaknegatifbukaefbe #wastingtimekepoinefbeorang

​JANGAN PAKSA ANAK UNTUK TERUS-TERUSAN MAKAN

In Kutipan :) on June 8, 2017 at 13:02

JANGAN PAKSA ANAK UNTUK TERUS-TERUSAN MAKAN

Ketika saya bawa anak saya ke dokter anak, dia tanya.. mau imunisasi bu? Sy blg ngga
Saya bilang, “dia nggak mau makan nasi dok. Sama skali. Dan kalau makan sedikit banget. Kenapa ya dok. Saya takut anak saya kurang gizi.”

Dokter itu melihat saya dengan pandangan “seriously??” (jika di translate ke bahasa alay jadi “Ciyus lo?”) .Setelah dia diam beberapa saat, dia mulai paragraph panjang yang sampai sekarang tidak akan saya lupakan (tentunya penjelasan di bawah nggak akan plek2 perkata, karena selain kejadiannya udah lama bgt, itu dokter lulusan luar kayaknya, jadi bahasanya setengah ng-inggris gitu, jadi kalau translationnya beda2 dikit, maklumi saja lah ya..):
“Bu., anak tidak mau makan disebabkan oleh DUA hal. 
Alasan pertama. Dia emang bukan pemakan. Ada orang yang hidup untuk makan. Ada yang makan untuk hidup. Tipe pertama akan menghabiskan banyak waktu, uang dan tenaga untuk memanjakan lidah dan perut mereka. Karena mereka SUKA makan. Tipe kedua tau kalau mereka nggak makan, mereka mati. Jadi ya… terpaksa makan. Ibu umurnya berapa? Katakan 26. Emang semuaaaa orang yang usianya 26 seperti ibu? memiliki selera makan seperti ibu? Memiliki badan sebesar ibu? Nggak kan. Ada yang lbh kurus dan ada yang lbh gemuk. kenapa anak ibu harus sama dengan semua anak 2th lainnya? Mungkin he’s simply not an eater aja.

Alasan kedua. Adalah karena IBUNYA MAKSAIN DIA MAKAN MULU!!!. Setiap jam di tawarin makan. Kadang setiap setengah jam, panik nggak karuan. Belum susunya seabrek2. Trus cemilan. dibikinin A nggak mau. Trs bikin B deh, tawarin lagi. Di sogok, di rayu, di paksa. Bayangin deh bu nggak enaknya. Coba ibu digituin, di tawarin untuk makaaaaaaaaaannn mulu. Kadang udah nggak 3x sehari lg.. hampir setiap waktu! Lagian sy nggak ngerti kenapa harus 3x sehari. Orang jam lapernya kan beda2. Saya laper sekarang masa saya paksa ibu untuk laper sekarang juga? gak masuk akal

(dalam hati saya.. eh.. ini mah guwe banget. Maksa2 ga karuan. maapin mama ya sayang)

“Ibu tau kenapa para ibu begitu ke anaknya?” lanjut dokternya
Karena mindset nya mindset kuno! mereka membesarkan anak mereka dengan cara mereka di besarkan: Harus 4 sehat 5 sempurna . padahal kita sudah nggak pake itu lagi. Dan alasan yang paling besar kenapa para ibu suka maksa anaknya makan adalah PARA IBU DI TEKAN OLEH SEKELILINGNYA, ya ibunya (nenek si anak itu), iparnya, tetangga, suami, untuk memastikan anaknya sehat, lucu dan gendut. Padahal gendut itu justru nggak sehat. Anaknya sedikit susah makan, neneknya mulai deh nyindir, belum tetangganya yang endlessly ngebandingin sama anaknya yang seusia, ugghh..
Jadi anak ibu Sehat. Cukup. Ibu tau nggak anak segini kalau seharian cuma makan bbrp sendok alpukat saja itu gak papa. Ibu tau, di alpukat itu ada banyak sekali gizi yang memadai untuk energy anak sehari. So don’t be too worry lah.
Hari itu saya pulang dengan amunisi dan penjelasan menyenangkan yang bisa di terima logika saya.. dan untuk sekitar saya pula yang.. suka sekali menawarkan anak2nya untuk makan.. setiap waktu. 
Anak di bawah 7 nggak akan mogok makan berhari-hari. Dia PASTI makan. Kalau dia bisa nggak makan SAMA SEKALI selama 12 jam, sudah bisa ikut puasa ramadhan dong. Jadi mereka pasti makan. Masalahnya terletak di DIA MAKAN HAL2 YANG IBU TIDAK ANGGAP ITU MAKANAN. karena emaknya org endonesah, jd kl anaknya blm makan nasi ama lauk di hitungnya belum makan mulu kalo cuma makan bolu, donat, roti, susu dan cuil2 tempe. Padahal di bolu itu sudah ada tepung (karbo), telur (protein). Betul, bentuknya tidak seperti nasi yang ibu konsumsi, tapi kalau ibu bukan bule, masa anaknya nggak blh jadi bule juga? Kalau anak kita idungnya nggak mirip kita. Atau matanya.. apa kita paksa? Nah, sama aja. Kalau selera makannya berbeda, kenapa juga kudu di paksa sama?
Selama dia cerdas, tumbuh, dan berat badannya .. yaa.. cukuplah, untuk saya kebahagiaan yang dia rasa untuk makan apa yang dia suka dan tidak membahayakan dirinya lebih penting dari apa yang masuk setiap saatnya. Toh kalau dia lapar, dia akan cari makan. Kalau makanan yang dia makan krg bergizi, itu murni salah saya memfasilitasi. Karena kalau barangnya nggak ada, nggak mungkin kan dia bisa konsumsi. 
So saya menularkan ilmu dokter tersebut ke semua ibu yang stress berat di tekan dari segala penjuru hanya karena anaknya kurang makan. Selama anak ibu sehat, ceria, aktif dan tumbuh sesuai porsinya, kurang2 dikit dari KMS, don’t worry too much lah. Kan kata hadistnya “Tidaklah anak cucu Adam mengisi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Sebenarnya beberapa suap saja sudah cukup untuk menegakkan tulang rusuknya. Kalau toh dia harus mengisinya, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernapas.” (H.R. Turmudzi, Ibnu Majah, dan Muslim). dan sunnatullah, gk pernah salah kan ya?
Jadi berhentilah. Berhenti menawarkan, merayu apalagi menyuapi. Berhenti membiarkan diri di tekan oleh orang2 yang bahkan tidak melahirkan anak ibu. Dan jika anda adalah suami, nenek, tante dari anak yang berbadan kurus.. berhenti juga. Berhenti menekan ibu anak itu untuk terus menyuapi anaknya. Kasian. Kasian ibunya.. apalagi anaknya. Tanpa anda tekan, ibu itu sudah cukup khawatir sama kekurusan dan selera makan anaknya. Tanpa anda tekan, dia sudah berjuang sepenuh jiwa raga agar anak itu tetap makan, sehat dan bahagia. Apa anda pikir ibu itu tidak berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya? Tanpa anda tekan, ibu itu pasti kasih makan anaknya, dan anaknya pasti akan minta makan ketika lapar. Wong bayi baru lahir saja sudah tau harus menangis jika perut terasa harus diisi. Apalagi bayi2 yang sudah lebih gedean lagi. So don’t worry. Mereka akan makan.
Sumber: Rahma Wati (https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10213978906573113&id=1423785886)