Bukan Nicholas :D

Archive for the ‘Kompasiana.com’ Category

She Was Moved On

In Kompasiana.com, puisilynglyng.blogspot.com on July 23, 2013 at 12:33

gambar: spasirelatif.blogspot.com

Perempuan itu telah pergi,

Perempuan itu yang pernah menganggap kamu adalah lelaki impian. Perempuan itu yang pernah berpikir kamu adalah lelaki yang ia inginkan. Perempuan itu yang pernah berpikir kamu adalah lelaki yang sangat mencintainya. Yahh.. Perempuan yang menangis karena tak lagi kau butuhkan.

Read the rest of this entry »

Cinta Di Ujung Kursor

In Fiksi, Kompasiana.com on March 29, 2013 at 06:38

Cinta Di Ujung Kursor

Oleh: @Lh1n4

gambar: rumahsyair.blogspot.com

Berawal dari saling komen postingan di sebuah forum, kami merambah perkenalan melalui Yahoo Messanger. Ia mengenalkan diri sebagai Feliaz, yang menurut penuturannya berasal dari bahasa latin Felyaz yang artinya keselamatan. Namun aku lebih suka memanggilnya “Fey”. Lelaki berzodiak Pisces ini cukup menyenangkan. Fasilitas Wifi kantor membuat kami bisa chatting setiap hari. Saling menyapa di antara pekerjaan kantor yang menjenuhkan, saling menghibur di kala stress menerpa. Sesederhana itulah hubunganku dengannya.

Read the rest of this entry »

Kepingan Hati Kia

In Fiksi, Kompasiana.com on March 5, 2013 at 17:04

Kepingan Hati Kia

Oleh: @Lh1n4

gambar: whitedovewild.blogspot.com

gambar: whitedovewild.blogspot.com

Tiga lembar foto terlempar di atas meja di depanku. Sambil aku mengamati objek di foto itu, perempuan cantik berjilbab pink senada baju kaos lengan panjangnya yang sedari tadi duduk di depanku pun mengangkat bicara.

“Itu sebulan yang lalu, sepulang dari Dago.”
“Buat apa kamu memperlihatkan semua ini sama saya?”
“Lupakanlah. Dia milik saya sekarang.”
“Saya tidak pernah merasa bahwa dia milik saya. Ambillah. Semoga langgeng.” Kataku, sambil beranjak dari kafe yang semakin sunyi itu.

Mataku seperti nyala berkilat-kilat. Foto yang kulihat tadi menunjukkan seorang perempuan dan lelaki, nyaris tanpa busana. Berlatarkan kamar tidur bersemu kemerahan. Perempuan itu tak lain adalah Nayla, perempuan yang baru saja ku temui di Kafe dan lelaki itu adalah Erlangga. Dia jauh-jauh datang ke Semarang menemuiku, hanya untuk menunjukkan foto itu. Karena ia tahu, saat ini Erlangga sedang ada di Semarang.

***

Read the rest of this entry »

Menjemput Impian

In Fiksi, Kompasiana.com on February 7, 2013 at 02:03

Menjemput Impian

Oleh: @Lh1n4

ourloveinoctober.blogspot.com

Sore terakhir ini Ndaa mengajakku ke tepian Losari, menikmati matahari terbenam. Setelah dua hari lelaki yang bernama Arjuna itu menemaniku menyusuri lika-liku Kota Makasar, ia memilih menutup cerita liburanku di pantai ini. Esok subuh aku sudah harus meninggalkan pulau ini, meninggalkan Kakandaku, yang telah terbiasa kupanggil Ndaa. Enam tahun silam kami lima sahabat, Aku, Ndaa, Rangga, Elisa dan Almarhum Tyo kuliah di sebuah Universitas yang sama di Kota Mataram. Meski berbeda Fakultas kami tak terpisahkan. Ndaa kemudian mendapat tugas sebagai dokter PTT di Kota jauh ini. Aku ke sini untuk menjenguknya sekaligus menghabiskan liburanku.

“Aku ingin menikah.”  Kataku dengan suara yang hampir dilenyapkan gemuruh ombak.
“Rangga sudah melamarmu?” Tanyanya
“Bukan. Tapi menikah sama Ndaa..” Kataku semakin pelan.

Aku menatap ke dalam coklat matanya, mencoba menerka reaksinya atas kalimat yang telah ku ucapkan. Aku menangkap keterkejutan hingga tubuh gugupnya bergetar. Kemudian dia mendekat. Mengecup keningku lamat-lamat, lalu mendekapku dengan tubuhnya yang masih menyisakan kegugupannya.

“Sejak semula, aku menyayangimu sebagai adik perempuan yang tak kumiliki. Aku menganggapmu, menjagamu, seperti Lingga. Aku tak ingin kehilangan seorang adik perempuan lagi. Keberadaanmu selama ini telah mengisi kehampaanku, kerinduanku atas kepergian Lingga.” Katanya panjang.
“……”
“Lalu ketika aku harus di sini, pasrah aku meninggalkanmu di sana demi sebuah pengabdian. Aku yakin Rangga mampu menjagamu lebih baik daripada aku. Aku hanyalah seorang abang yang kelak, cepat atau lambat akan merelakanmu bersama Rangga.”
“……..”
“Ada apa dengan kalian?” Tanyanya.
“Kami baik-baik saja.” Jawabku pendek.
“Lalu?”
“Aku hanya tak yakin kami bisa melalui masa-masa yang lebih buruk. Aku tak yakin Rangga akan tetap siap saat keras kepalaku kambuh. “
“Ceritalah.” Pintanya.

Sebelum kami berlima bersahabat, Rangga, lelaki yang menjadi kekasiku semenjak beberapa tahun belakangan ini adalah teman masa kecil Ndaa. Hubunganku dengan Rangga masih baik-baik saja, meski tidak lagi seperti dulu. Kami hanya berusaha tidak menyakiti satu sama lain, mulai tidak jujur dengan perasaan masing-masing. Berusaha saling menyenangkan meski menyembunyikan ketidaknyamanan. Tak lagi tulus.

Ingatanku kembali ke hari dimana aku pernah marah pada Rangga karena mengingkari janjinya menemuiku hari itu. Aku menunggunya seharian, namun dia tak jua datang atau berkabar. Aku pulang sambil menangis. Hari itu aku kesal sekali, lalu aku enggan menemui Rangga ataupun berbicara padanya. Bukannya meminta maaf atau merayuku, Rangga malah mendiamkanku. Saat itulah hatiku mulai ragu, jika aku melakukan kekonyolan yang lebih lagi, akankah Rangga mempertahankanku? Semua kekecewaan itu kututupi rapat-rapat, tidak jua aku ceritakan pada Ndaa.

“Aku ingin orang yang memelukku meski ku marah, Aku ingin orang yang mengejarku meski ku menjauh, aku ingin orang yang tetap menggenggamku meski ku menampik..”
”Bagaimana dengan Rangga, Dik?” Tanyanya yang ku jawab dengan menggeleng pelan.
”Alasanku datang ke sini, ingin menemukan kenyamanan itu sama Ndaa, seperti dulu. Karena aku tak lagi yakin Rangga mampu.” Aku tak melanjutkan kalimatku.
“Jika kamu ingin aku menjagamu seumur hidupku, aku bersedia, Dik. Aku akan membuat adik kecilku bahagia..”
“Aku bukan ingin menjadi adik kecilmu lagi” Jeritku.
“Iyahh sayang, aku mau.”

****

Sekembaliku ke tanah Lombok, tidak ada yang berubah. Kembali menjalani rutinitasku sebagai pengajar di sebuah kampus swasta. Dalam perjalanan mengantarku ke kampus tadi pagi, Rangga mengemukakan niatnya untuk segera bertemu ayah dan melamarku. Terbersit rasa bersalah di hatiku karena aku tidak menceritakan tentang Ndaa. Rangga hanya tahu aku ke Makasar untuk berlibur dan dia mengijinkan karena ada Ndaa yang dapat mengawasiku selama di sana. Dia tidak pernah tau Ndaa bukan hanya menjagaku di sana, tetapi berjanji menjagaku seumur hidup.

Sesampainya di meja kerja, aku mengirimkan pesan pendek kepada Nda.

Ndaa, kapan mau ketemu ayah?” Pesan terkirim.
Aku belum bisa cuti Dik.” Balasnya.
Sebentar saja Ndaa, sekedar bertemu Ayah. Menikah bisa kapan saja, kapan Ndaa siap.
Sabarlah, Dik. Tunggulah beberapa bulan lagi.
Rangga mau melamarku Ndaa. Aku tidak punya alasan pada ayah untuk tidak menerima Rangga.”
Katakan engkau punya aku.”
“Siapa..?? Ayah tak pernah tau tentang Ndaa, yang ayah tau cuma Rangga
.”

****

Setelah aku mencoba mengulur-ulur waktu, malam ini tiba juga. Rangga benar-benar datang dan menemui Ayah untuk menyampaikan maksudnya. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menepis ketidakyakinanku pada Rangga. Sementara aku tak lagi membalas pesan-pesan Ndaa, karena aku tahu tak akan bisa membujuknya untuk datang mendahului Rangga.

Setelah Rangga pamit pulang, aku memutuskan untuk mengabarkan Ndaa. Ku ambil ponselku dan memilih namanya di phonebook. Beberapa detik mendengar nada tunggu, suara ngebass Ndaa menyambutku dari seberang sana.

“Dik, kenapa tak pernah membalas pesanku?”
“Toh Nda tidak akan datang lebih cepat untuk menemui Ayah.”
”Aku mengkhawatirkanmu, Dik”
”Mungkin Nda bisa berhenti khawatir, Rangga baru saja pulang dari rumahku.”
“Lalu?”
“Ia melamarku.”
“Ohh.” Terdengar nafas panjang di seberang sana. “Maafkan aku, Dik. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.”
“Aku pikir Ndaa akan memperjuangkan aku. Aku jauh-jauh mendatangimu ke Makasar karena aku menginginkanmu. Begini sajakah Ndaa?” Tanyaku sambil terisak.
“Maafkan aku Dik..”
“Aku cuma perempuan, Ndaa. Mampuku hanya dipilih, bukan memilih.”

****

Tiga bulan kemudian.

Ponselku berdering, menampilkan nama Atala yang sedang menunggu untuk di jawab.

“Hai Juna, kamu juga akan ikut Diklat Dokter di sini kan? Minggu depan?” Suara berat khas Atala memburuku dengan pertanyaan.
“Iya, Sob. Aku dan Dr. Rina yang ditugaskan. Kamu pasti dikabari Dr. Rina ya?”
“Iya, Dr. Rina yang cerita. Wahh, kebetulan si Rangga akan menikah tuh minggu depan. Kamu sudah terima undangannya?”

Deg! Jantungku serasa berhenti berdetak. “Ohh.. Aku tak tau. Aku baru mendengar kabar dari kamu.”
“Undangan tak formal sih. Pemberitahuannya lewat facebook kok, selebihnya sama yang sering bertemu saja.”
“Aku jarang buka facebook.”
“Tak apalah. Kita reunian di tempatnya Rangga yahh..!!” Ujarnya menutup percakapan.

Dua tahun lalu, Aku dan Dr. Rina, temanku sealmamater yang terpilih menjalani tugas sebagai Dokter PTT di sini. Sedangkan Atala, eh maksudku Dr. Atala, bertugas di RSU Mataram. Oh iya, Aku, Dr. Atala dan Rangga berasal dari SMU yang sama. Namun ketika kuliah, kami mengambil jurusan yang berbeda. Aku dar Dr. Atala mengambil Studi Kedokteran sedangkan Rangga diterima di Fakultas Teknik.

Perintah untuk melakukan Diklat, sebenarnya sudah kami terima beberapa bulan lalu. Waktu itu aku senang sekali, karena aku bisa memenuhi keinginan Windi untuk segera menemui ayahnya. Namun, sebelum aku sempat mengabarinya pada Windi, malam itu Windi mengabariku bahwa Rangga telah melamarnya. Kebahagiaanku seketika lenyap sudah. Dan kegiatan Diklat itu secara kebetulan akan bersamaan dengan hari pernikahan Rangga. Ohh, sungguh kebetulan yang tidak menyenangkan.

Aku ingin berpura-pura tidak tahu saja tentang pernikahan itu. Perasaan bersalah pada Windi semakin menghantuiku. Bagaimana aku akan menghadapinya? Memang selama ini aku menganggap Windi sebagai pengganti Lingga, adik perempuanku yang meninggal karena kecelakaan. Semenjak kedatangan Windi ke Makasar, sayangku kepadanya semakin besar. Keinginan untuk menjaganya seumur hidup semakin kuat. Namun sepertinya, aku harus tetap menyayanginya sebagai adik, tidak bisa menjaganya lebih, seperti keinginannya.

****

Kemeja merah dengan celana kain kehitaman kugunakan malam itu. Benarkah keputusanku untuk mendatangi pernikahan Rangga? Sanggupkah aku bertemu dengan Windi? Ah, setidaknya aku datang untuk ikut berbahagia atas pernikahan mereka. Aku merapikan kembali setelan kemejaku sebelum akhirnya aku turun dari taksi yang mengantarku ke gedung yang menjulang megah itu. Tanpa harus kesulitan mencarinya, Dr. Atalla dan temannya Firman sudah menantiku di depan para penerima tamu.

“Junaaa..” Teriak mereka ketika melihatku.
”Hai, Sob. Maaf aku terlambat.”
“Kami juga baru datang kok. Acara baru dimulai. Masih sesi dengan keluarga besarnya.”
“Ohh..”

Kami bertiga pun masuk mengikuti para undangan lainnya. Pesta yang megah terlihat dari pilihan dekorasinya yang ala Timur Tengah. Inisial W & R menghiasi souvenir dan buku tamu. Terlihat berbeda dengan pesta pernikahan pada umumnya, mempelai wanita terpisah dengan mempelai pria. Para undangan pria hanya boleh bertemu dengan mempelai pria tidak bercampur dengan undangan wanita. Sesuai syariat Islam, dimana pria tidak diperkenankan bercampur dengan wanita yang bukan mahramnya. Ah, aku tidak bisa melihat secantik apa Windi dalam balutan busana pengantinnya.

Tibalah giliranku menyalami Rangga. Seperti yang lainnya dia begitu terkejut melihat kehadiranku.

“Arjunaaa.. My Broo..!!” Ujarnya sembari menggenggam tanganku.
”Selamat yah Rangga..””
”Thanks My bro. Aku senang kamu sudah jauh-jauh pulang untuk datang di hari pernikahanku.”
“Sama-sama.”
“Kamu sudah bertemu Windi?” Tanyanya.

Deg! Nama itu membuat seolah ruangan kekurangan oksigen. Sesak.

“Belum. Aku tadi baru saja dari bandara. Mampir di rumah cuma untuk ganti baju, lalu segera ke sini.”
“Ohh.. Nanti kalau tamu sudah mulai lengang, aku beri tahu dia untuk menemuimu.”
“Oh tak apa. Tak usah. Jangan merepotkan. Bisa ketemu kapan-kapan. Aku akan beberapa hari di sini.”
“Baiklah..”

***

Acara cukup meriah, para undangan dihibur dengan tarian khas timur tengah. Para penyelenggara pesta menggunakan pakaian ala dunia Aladin, benar-benar menyemarakkan pesta. Namun aku lelah. Lebih tepatnya hatiku lelah menahan rasa yang ingin meledak. Tak bisa kudefinisikan, cemburukah, kecewakah, atau sedihkah yang sedang merayap di hatiku? Entahlah. Akhirnya aku pamit pada Firman dan Dr. Atalla dengan alasan mempersiapkan kegiatan Diklat besok pagi. Ketika taksi yang aku pesan untuk mengantarkanku pulang telah datang. Sekelabat aku melihat sosok perempuan berkebaya putih dengan lilitan batik keemasan setengah mengejarku. Selendang keemasan yang menghiasi jilbab putihnya beterbangan menutupi sebagian rautnya. Namun mata bulat itu sungguh sangat kuhafal.

“Nda. Aku diberitahu Rangga bahwa Nda datang.”
“Iyah, tapi aku sudah mau pulang. Itu taksinya sudah menungguku.”
“Aku ikut..” Katanya seraya mendahuluiku memasuki taksi.

Aku terbengong-bengong mengikutinya. Aku masih menoleh pada pesta yang masih berlangsung di belakangku. Bagaimana mungkin, mempelai wanitanya sedang bersamaku.

“Maafkan aku Dik. Baru bisa datang sekarang.”
“Kenapa Nda tidak mengabariku?”
“Aku tahu kamu pasti sibuk. Lagian aku juga baru nyampe tadi sore.”

“Pak. Di depan belok kanan yahh!” perintahnya pada sopir Taksi. Aku hanya diam mengikuti. Badanku yang  lelah tidak lagi mendominasi. Jantungku lebih berdebar-debar karena ketegangan yang sedang ku alami. Sementara taksi yang kami tumpangi mengarah ke daerah pesisir. Senggigi. Masih banyak terlihat muda-mudi yang berkencan. Maklum saja ini masih suasana hari Minggu. Windi menginstruksikan supir Taksi ke arah Berugaq paling ujung, yang terlihat sepi.

Setelah turun dari taksi, Windi melepaskan high heells yang sedari tadi menghiasi kakinya, lalu berlari ke tepian pantai. Ia berkejaran dengan ombak yang berebutan membasahi kakinya.

“Ngapain kita di sini, Dik?” Kataku memulai pembicaraan.
“Mengenang.”

Aku hanya melihatnya bermain air dari tepian pantai yang tidak terjamah ombak.

“Lima tahun lalu kita di sini. Aku, Rangga, Ndaa, Elisa dan Almarhum Tyo.”

Aku diam dan mendengarkannya. Udara semakin dingin. Aku masih gelisah melihat Windi dengan balutan busananya, seperti pengantin yang melarikan diri dari pesta.

“Aku merindukan kebersamaan kita dulu. Kalian semua satu persatu menjauh. Tyo, yang lebih dulu pergi ke atas sana. Lalu Elisa mengikuti suaminya ke Kalimantan. Kemudian Ndaa tugas di jauh sana.”
“Aku toh sekarang bersamamu di sini, Dik.”
“Tapi, hanya malam ini kan Ndaa? Itupun karena aku menculikmu.” Katanya sambil menatapku.
“Sudahlah, Dik. Masih ada esok untuk kembali ke sini. Ayo aku mengantarmu kembali ke pestamu saja. Nanti semua orang mencarimu.” Bujukku.
“Rangga tahu aku bersamamu. Dia yang tadi menyuruhku menemuimu.”
”Tidak pantas kita seperti ini, Dik. ”
“Sebentar lagi Nda. Aku masih rindu.”
“Apa kata orang di pesta sana, mengetahui mempelai perempuannya bersamaku di sini.”

Dia tergelak.

“Apa aku sudah secantik mempelai wanita, Nda?” Katanya sambil menghampiriku.
“Apa maksudmu, Dik?”
“Aku pikir Nda akan datang untuk menjadikanku mempelai wanita.”
“Maafkan aku, Dik. Baru bisa datang hari ini. Maafkan aku yang terlambat menemuimu.”
“Aku masih bersedia bila Nda berkenan.“
“Pestamu belum usai. Busana masih lekat di badanmu. Ngaco kamu Dik.. “

Dia kembali tergelak sembari melepaskan satu persatu hiasan mawar yang menghiasi kerudung putihnya. Selendang keemasan yang menghiasinya pun tak lagi bertengger di atasnya. Sosok Windi di depanku, telah menjadi wanita biasa.

“Aku juga ingin seperti Winar dan Rangga, Nda.”
“Winar? Jadi Rangga menikah dengan Winar adikmu? Bu.. Bukan Windi?”
“Tentu saja bukan.”
“Rangga memang datang melamarku. Namun dia memahami keputusanku, dan akhirnya mengalihkan lamarannya kepada Winar.”
“Maafkan aku, Dik. Aku tak akan membiarkanmu menunggu lagi.”

Aku mendekatinya. Mencium keningnya lamat-lamat, lalu mendekapnya dengan jantung yang masih berdebar. Seperti di Losari setahun yang lalu.

***

Sehari sebelum kepulanganku ke Tanah Makasar, kembali ku kenakan kemeja merah dan celana hitam kainku. Kali ini di tambah dengan jas hitam yang aku pinjam dari Atala. Aku kembali mematut diri di cermin yang bergelantung di dinding. Ku rapikan rangkaian melati yang membentuk kalung di leherku. Aku tersenyum menyembunyikan degupan jantungku. Meski sangat tergesa-gesa dan tanpa pesta. Sebentar lagi akan berlangsung akad nikah Arjuna dan Windi.

Aku akan menjagamu, Dik. Seumur hidupku.

#Fiksi #Masa Lalu #Mimpi #Kenangan
Malang. 02.11.2012

Repost dari tulisan saya di Kompasiana

*** Back Song ***

Kisah Romantis – Glenn Fredly

Mengejar dirimu takkan ada habisnya
Membuat diriku menggila
Bila hati ini menjatuhkan pilihan
Apapun akan kulewati

Hari ini sayang sangat penting bagiku
Kau jawaban yg aku cari
Kisah hari ini kan ku bagi denganmu
Dengarlah sayang kali ini
Permintaanku padamu

Reff: dan dengarlah sayangku
aku mohon kau menikah denganku
ya hiduplah denganku
berbagi kisah hidup berdua

Cincin ini sayang terukirkan namamu
Begitu juga di hatiku
Hujan warna-warni kata orang tak mungkin
Namun itu mungkin bagiku
Sebuah tanda cintaku