Bukan Nicholas :D

Archive for the ‘Kutipan :)’ Category

Emang Enggak Capek Ngomel Mulu?

In Kutipan :) on March 17, 2018 at 05:30

:: Emang Enggak Capek Ngomel Mulu? ::

“Mas, tolong buangin sampah.”
“Mas, ngga berlama-lama di kamar mandi.”
“Kakak, ngga teriak-teriak kalo bicara, enggak sopan.”
“Ini handuk siapa belum ditaruh?”
“Ini baju kotor siapa yang di depan kamar mandi?”
“Kakak, ngga berantem sama adeknya, harus saling sayang saling jaga.”
Mas, kak, ayo buruan beres-beres, bunda mau nyapu.”

Sounds familiar..??
Itu kalimat-kalimat yang lumayan sering saya ucapkan.
Dengan nada suara bervariasi, dari rendah sampai ke tinggi. Tergantung kondisi kejiwaan.

,Emang enggak capek ngomel mulu..??,
“Ya capeklah…!”
“Kalo bisa milih, saya lebih milih diem, anak-anak mandiri, enggak perlu diingetin, rumah bersih rapi, rekening penuh terisi…*mulai berhalusinasi*

“Kenapa sih musti ngomel ke anak-anak?”

Bagi saya itu bagian dari mendidik anak. Mungkin di luar sana banyak ibu peri yang bisa mendidik anak-anaknya dengan muka manis dan kalimat halus, tapi yang jelas saya tidak punya tongkat ajaib itu. Buku-buku parenting itu bilang kalo mengajari anak itu memang harus dengan pengulangan. Tidak bisa dengan sekali ucap kemudian anak paham dan melakukannya secara terus-menerus.

“Tapi tahu ngga sih?”
Mengulang-ulang itu juga butuh energi yang besar. Kalo energi udah nyaris habis untuk urusan domestik, akhirnya yang muncul ya nada-nada tinggi itu. Berapa puluh kali saya harus ngingetin anak-anak untuk hal remeh temeh seperti naruh handuk basah di jemuran atau beresin mainan??
“Ratusaan…!”
Kadang kalo udah capek, saya milih diem.
“Ya udahlah, biarin aja. Nanti aja kalo anak-anak udah tidur saya beresin..”

Mberesin sendiri itu jauh lebih cepat dan menghemat energi daripada harus ngomel-ngomel nyuruh mberesin mainan.
Tapiii, apakah itu hal yang tepat??
Lalu bagaimana dengan soal melatih tanggung jawab??

Anak-anak saya bukan pangeran atau putri yang dikelilingi pelayan setiap hari, mereka juga harus belajar melayani diri sendiri, belajar bertanggung jawab dengan apa yang sudah mereka lakukan..

Soal remeh temeh lainnya yaitu mengambil mainan.
Yang saya ajarkan ke anak-anak, ambil mainan satu per satu, bukan dengan cara menumpahkan seluruh isi kotak mainan.
Kalo pun mainan yang dicari ternyata ada di bagian bawah, biarlah mereka ngeluarin yang di atas satu per satu sampai ketemu yang dicari. Anggap saja itu untuk melatih kesabaran dan tidak mudah putus asa.
“Aneh ya?”
“Kan hasilnya sama aja?”
“Sama-sama harus diberesin?”
“Beda..!”

Kalo diambil satu-satu, mberesinnya lebih mudah dan cepat, karena biasanya juga ngga semua mainan dipake.
“Ahh, ngga masalah. Wong yang mberesin ART ini”.
“Emang situ enggak punya ART”

Okelah kalo begitu..Di rumah semua oke karena ada ART yang handle semua bentuk kreativitas anak.
Tapi pernah terpikir enggak kalo itu akan jadi kebiasaan?
Dan itu bisa terjadi di mana saja.
Rumah tetangga, misalnya..
Anak kita maen ke tetangga sebelah. Ambil kotak mainan temannya, ditumpahin seluruh isinya. Kita ngga tahu kan perjuangan si empunya rumah gimana. Siapa tahu dia ngga punya art. Siapa tau dia baru aja selese beres-beres rumah yang kaya kapal pecah, lalu anak kita masuk. Bermain dengan anaknya, dan numpahin semua mainan yang ada kotak mainan.

Gimana perasaan yang empunya rumah?
Saya pernah mengalaminya. Ada anak tetangga ke rumah, numpahin satu keranjang mainan.
Ok, baiklah..Ini tamu. Saya masukin lagi semua mainan, anak-anak yang waktu itu masih balita saya biarkan bermain dengan anak tetangga. Dan kemudian si anak tetangga ini menghampiri keranjang mainan yang sudah terisi lagi. Dia bahkan ngga nyari mainan yang dia suka. Tangannya langsung ngangkat keranjang, numpahin semua isinya. Dan itu terjadi 3x dalam satu kali kunjungan itu.
“Terus aku kudu piye?”

Pernah melihat sebuah keluarga yang anak-anaknya sudah besar, usia SMP ke atas, si ibu sibuk dengan semua kerjaan rumah, mulai dari nyapu, ngepel, nyuci, nyetrika, masak dll, sementara si anak hanya nonton tivi.
Tidak ada kalimat minta bantuan dari si ibu kepada anak-anaknya. Tak bijak rasanya kalo menurut saya.
Mungkin saat ini si ibu tenaganya masih cukup untuk meng-handle semua urusan domestik itu.

Tapi berapa tahun ke depan? Usia jelas bertambah dan itu tidak berbanding lurus dengan energi yang dimiliki oleh si ibu.
Dan yang lebih penting, dimana letak empati si anak?
Sepertinya anak-anak ini memang tidak pernah diberi tugas ketika masih kecil. Bisa jadi sudah pernah mencoba memberi tugas, tapi anak-anak tidak serta merta langsung melakukan itu kan? Sehingga diambillah jalan pintas itu. Biarlah si ibu yang menangani semuanya, itu jauh lebih cepat, daripada harus ngomel-ngomel panjang dan si anak tetap tidak melakukan. Berhasil! Untuk jangka pendek. Tapi untuk jangka panjang..bisa jadi ada efek negatif tentang menurunnya tingkat empati si anak.

Seorang guru pernah bercerita, seorang anak kelas 3 SD terdiam lama di kamar mandi di sebuah kegiatan perkemahan. Dia tidak tahu caranya mandi karena selama ini selalu ada mbak yang mandiin. Kelas 3 SD…! Nyaris tidak percaya saya mendengarnya. Jujur saja, mandiin anak-anak yang jumlahnya tiga itu, memang jauh lebih cepet, lebih bersih, dan lebih menghemat tenaga, daripada membiarkan mereka mandi sendiri. Tapi dengan mandi sendiri itu akan melatih kemandirian anak, saya juga bisa mengajarkan ke anak-anak bahwa kamar mandi itu tempat kotor, jadi sebaiknya ke kamar mandi seperlunya saja, tidak berlama-lama.

Ketika saya mempunyai harapan agar anak-anak kelak menjadi anak yang sholih sholihah, saya harus menanamkan nilai-nilai itu sedini mungkin. Sholat meskipun belum wajib, tetap harus dilakukan. Meskipun gerakan dan bacaannya belum sempurna benar, tapi target melakukan sholat 5x dalam sehari itu harus dimulai sedini mungkin. Kalo anaknya masih asyik nonton, asyik maen sementara sudah masuk waktu sholat, saya yang harus mengingatkan.

Kalimat pertama dengan intonasi lembut. Sepuluh menit ngga beranjak dari depan TV, kalimat peringatan kedua dengan intonasi agak naik. Kalimat ketiga, keempat, kelima dst. Bahkan bisa jadi dari awal masuk waktu sholat sampai hampir berakhir waktu sholat, itu bocah masih belum juga beranjak.

Disinilah omelan panjang lebar itu bekerja..
Capek..!
Bosen..!
Ngingetin anak-anak buat sholat padahal mereka ngga berdosa juga kalo ngga sholat. Tapi, itu harus saya lakukan. Demi harapan saya punya anak sholih dan sholihah bisa terwujud. Karena kalo menunggu usia baligh baru menyuruh mereka sholat, akan jauh lebih susah.
Tapi ngomel-ngomel itu juga ada hasilnya..

Untuk satu kebiasaan baik, bisa jadi butuh sebulan dua bulan, kadang juga lebih dari itu, ngomel hampir setiap hari.
Dan ketika kebiasaan itu sudah tertanam dengan baik, kita tinggal menikmati hasilnya.

Kalo kadang lupa, cukup ngingetin dengan kalimat pendek..Ngga sampe ngomel..
Ada handuk basah di kasur, tinggal bilang, “handuuukk…!”

Si pemilik handuk udah langsung menuju kamar
ngambil handuk dan naruh di jemuran handuk.
Beres-beres mainan, tinggal bilang, beres-beres 10 menit. Kalo masih asyik ngobrol, tinggal bilang, 5 menit lagi. Kalo sudah habis waktunya dan masih belum beres juga mainan-mainan itu, tinggal ambil sapu dan para pemilik mainan akan bergegas menyelamatkan harta bendanya.

Saya sih tidak menyarankan para ibu untuk ngomel-ngomel setiap saat..
Kalo bisa pakelah bahasa yang lembut ke anak-anak kita.
“Kalo bisa…!”
“Kalo ngga bisa?”
“Yaa.. Ngomel-ngomel selama tidak melebihi batas boleh lah..”
Xixixixi…

Sumber: Penulis : Ernawati
Please Like and Share

Advertisements

Ah, cuma sunnah. 

In Kutipan :) on June 28, 2017 at 19:32

Kalau kita ditanya apa arti sunnah, pasti jawabannya “kalau di kerjakan dapat pahala, kalau tidak di kerjakan tidak apa-apa.” 

Padahal kalau kita mengerjakan sholat sunnah rawatib 12 rakaat, Allah menjanjikan rumah di surga. Bayangkan kalau kita mengerjakannya setiap hari. Yakin nih enggak apa-apa di tinggal?

Kalau kita sholat sunnah fajar, pahalanya lebih baik dari dunia dan seisinya. Yakin nih enggak apa-apa?

Seseorang yang sholat tahajud, Allah mudahkan urusannya, doa-doanya terkabul, Allah angkat derajatnya ke tempat yang terpuji, dijamin masuk surga dan selamat dari adzab neraka, dicatat sebagai orang yang berdzikir kepada Allah. Yakin nih enggak apa-apa ditinggal?

Kalau kita sholat dhuha, sudah mencukupi sedekah 360 persendian dan Allah jamin rezekinya. Yakin nih enggak apa-apa?

Seseorang yang sholat ke masjid, tiap langkahnya diangkat satu derajat dan dihapuskan satu dosa sampai ia masuk masjid. Apabila ia di dalam masjid, dianggap mengerjakan sholat selama menunggu hingga sholat dilaksanakan, dan malaikat mendoakannya. Yakin nih enggak apa-apa ditinggal?

Seharusnya di mindset kita bukan lagi “kalau di kerjakan dapat pahala, kalau tidak di kerjakan tidak apa-apa”, tapi diganti menjadi “kalau di kerjakan dapat pahala, kalau tidak di kerjakan akan RUGI.” 

Kata-kata “ah, itu cuma sunnah” dari setan yang membisiki, agar kita tidak melaksanakan amalan-amalan tersebut. Seharusnya saat ini lah waktunya kita berlomba-lomba mengumpulkan amal sholeh mumpung masih di dunia, karena kematian bergerak konsisten kepada kita dengan kecepatan 60 detik/menit tanpa pernah berhenti untuk beristirahat.

Wallahu a’lam bisshawab
Regrannfrom@sithaamira

​JANGAN PAKSA ANAK UNTUK TERUS-TERUSAN MAKAN

In Kutipan :) on June 8, 2017 at 13:02

JANGAN PAKSA ANAK UNTUK TERUS-TERUSAN MAKAN

Ketika saya bawa anak saya ke dokter anak, dia tanya.. mau imunisasi bu? Sy blg ngga
Saya bilang, “dia nggak mau makan nasi dok. Sama skali. Dan kalau makan sedikit banget. Kenapa ya dok. Saya takut anak saya kurang gizi.”

Dokter itu melihat saya dengan pandangan “seriously??” (jika di translate ke bahasa alay jadi “Ciyus lo?”) .Setelah dia diam beberapa saat, dia mulai paragraph panjang yang sampai sekarang tidak akan saya lupakan (tentunya penjelasan di bawah nggak akan plek2 perkata, karena selain kejadiannya udah lama bgt, itu dokter lulusan luar kayaknya, jadi bahasanya setengah ng-inggris gitu, jadi kalau translationnya beda2 dikit, maklumi saja lah ya..):
“Bu., anak tidak mau makan disebabkan oleh DUA hal. 
Alasan pertama. Dia emang bukan pemakan. Ada orang yang hidup untuk makan. Ada yang makan untuk hidup. Tipe pertama akan menghabiskan banyak waktu, uang dan tenaga untuk memanjakan lidah dan perut mereka. Karena mereka SUKA makan. Tipe kedua tau kalau mereka nggak makan, mereka mati. Jadi ya… terpaksa makan. Ibu umurnya berapa? Katakan 26. Emang semuaaaa orang yang usianya 26 seperti ibu? memiliki selera makan seperti ibu? Memiliki badan sebesar ibu? Nggak kan. Ada yang lbh kurus dan ada yang lbh gemuk. kenapa anak ibu harus sama dengan semua anak 2th lainnya? Mungkin he’s simply not an eater aja.

Alasan kedua. Adalah karena IBUNYA MAKSAIN DIA MAKAN MULU!!!. Setiap jam di tawarin makan. Kadang setiap setengah jam, panik nggak karuan. Belum susunya seabrek2. Trus cemilan. dibikinin A nggak mau. Trs bikin B deh, tawarin lagi. Di sogok, di rayu, di paksa. Bayangin deh bu nggak enaknya. Coba ibu digituin, di tawarin untuk makaaaaaaaaaannn mulu. Kadang udah nggak 3x sehari lg.. hampir setiap waktu! Lagian sy nggak ngerti kenapa harus 3x sehari. Orang jam lapernya kan beda2. Saya laper sekarang masa saya paksa ibu untuk laper sekarang juga? gak masuk akal

(dalam hati saya.. eh.. ini mah guwe banget. Maksa2 ga karuan. maapin mama ya sayang)

“Ibu tau kenapa para ibu begitu ke anaknya?” lanjut dokternya
Karena mindset nya mindset kuno! mereka membesarkan anak mereka dengan cara mereka di besarkan: Harus 4 sehat 5 sempurna . padahal kita sudah nggak pake itu lagi. Dan alasan yang paling besar kenapa para ibu suka maksa anaknya makan adalah PARA IBU DI TEKAN OLEH SEKELILINGNYA, ya ibunya (nenek si anak itu), iparnya, tetangga, suami, untuk memastikan anaknya sehat, lucu dan gendut. Padahal gendut itu justru nggak sehat. Anaknya sedikit susah makan, neneknya mulai deh nyindir, belum tetangganya yang endlessly ngebandingin sama anaknya yang seusia, ugghh..
Jadi anak ibu Sehat. Cukup. Ibu tau nggak anak segini kalau seharian cuma makan bbrp sendok alpukat saja itu gak papa. Ibu tau, di alpukat itu ada banyak sekali gizi yang memadai untuk energy anak sehari. So don’t be too worry lah.
Hari itu saya pulang dengan amunisi dan penjelasan menyenangkan yang bisa di terima logika saya.. dan untuk sekitar saya pula yang.. suka sekali menawarkan anak2nya untuk makan.. setiap waktu. 
Anak di bawah 7 nggak akan mogok makan berhari-hari. Dia PASTI makan. Kalau dia bisa nggak makan SAMA SEKALI selama 12 jam, sudah bisa ikut puasa ramadhan dong. Jadi mereka pasti makan. Masalahnya terletak di DIA MAKAN HAL2 YANG IBU TIDAK ANGGAP ITU MAKANAN. karena emaknya org endonesah, jd kl anaknya blm makan nasi ama lauk di hitungnya belum makan mulu kalo cuma makan bolu, donat, roti, susu dan cuil2 tempe. Padahal di bolu itu sudah ada tepung (karbo), telur (protein). Betul, bentuknya tidak seperti nasi yang ibu konsumsi, tapi kalau ibu bukan bule, masa anaknya nggak blh jadi bule juga? Kalau anak kita idungnya nggak mirip kita. Atau matanya.. apa kita paksa? Nah, sama aja. Kalau selera makannya berbeda, kenapa juga kudu di paksa sama?
Selama dia cerdas, tumbuh, dan berat badannya .. yaa.. cukuplah, untuk saya kebahagiaan yang dia rasa untuk makan apa yang dia suka dan tidak membahayakan dirinya lebih penting dari apa yang masuk setiap saatnya. Toh kalau dia lapar, dia akan cari makan. Kalau makanan yang dia makan krg bergizi, itu murni salah saya memfasilitasi. Karena kalau barangnya nggak ada, nggak mungkin kan dia bisa konsumsi. 
So saya menularkan ilmu dokter tersebut ke semua ibu yang stress berat di tekan dari segala penjuru hanya karena anaknya kurang makan. Selama anak ibu sehat, ceria, aktif dan tumbuh sesuai porsinya, kurang2 dikit dari KMS, don’t worry too much lah. Kan kata hadistnya “Tidaklah anak cucu Adam mengisi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Sebenarnya beberapa suap saja sudah cukup untuk menegakkan tulang rusuknya. Kalau toh dia harus mengisinya, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernapas.” (H.R. Turmudzi, Ibnu Majah, dan Muslim). dan sunnatullah, gk pernah salah kan ya?
Jadi berhentilah. Berhenti menawarkan, merayu apalagi menyuapi. Berhenti membiarkan diri di tekan oleh orang2 yang bahkan tidak melahirkan anak ibu. Dan jika anda adalah suami, nenek, tante dari anak yang berbadan kurus.. berhenti juga. Berhenti menekan ibu anak itu untuk terus menyuapi anaknya. Kasian. Kasian ibunya.. apalagi anaknya. Tanpa anda tekan, ibu itu sudah cukup khawatir sama kekurusan dan selera makan anaknya. Tanpa anda tekan, dia sudah berjuang sepenuh jiwa raga agar anak itu tetap makan, sehat dan bahagia. Apa anda pikir ibu itu tidak berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya? Tanpa anda tekan, ibu itu pasti kasih makan anaknya, dan anaknya pasti akan minta makan ketika lapar. Wong bayi baru lahir saja sudah tau harus menangis jika perut terasa harus diisi. Apalagi bayi2 yang sudah lebih gedean lagi. So don’t worry. Mereka akan makan.
Sumber: Rahma Wati (https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10213978906573113&id=1423785886)

how to price for handmade

In Kutipan :) on May 27, 2017 at 01:07

The Unprofitable Etsy Pricing Formula

Browsing the interwebs, you might see a pricing formula that looks a lot like this:

Supplies x 2 = Wholesale Price
Wholesale Price x 2 = Retail Price (or basically Supplies x 4)

I’m hesitant to even type that one on here because I don’t want you to just see it, use it, and then leave. A pricing formula like this might be simple, but it most likely will not get you a profit. Why? Because it leaves out a whole bunch of other fees and expenses that you’re probably incurring. Sure, the “x2″ or “x4″ multiplier is probably helping you cover part of that, but it’s better to come up with a more accurate measure of all your expenses and include them in your equation.

Pricing for Profit – A Better Formula

Here’s what I suggest:how to price your etsy goods

My Etsy pricing formula also includes labor and what I’m calling an overhead rate. Yes, my formula is a little more complicated. But, it’s going to give you a price that more accurately reflects how much it really cost you to create your good. Let me explain my reasoning by defining each piece of the formula. Then, I’ll give an example of pricing two hypothetical products, a wire-wrapped ring and a pair of stud earrings (I’m biased toward jewelry due to my original biz Lazy Owl Boutique!).

Supplies: As I explained in this post, your supplies expense is the cost of whatever materials went directly into your product. You should always have a record of what you pay for your materials (don’t forget to include what you paid for shipping too). You should be recording this at the per unit level, unless it is cost-prohibitive (basically, too time-consuming) to do so. Per-unit means tracking what it cost you per bead, per piece of paper, per foot or yard of fabric, etc., rather than the entire string of beads, ream of paper, bolt of fabric, etc. (If you aren’t keeping track of your supply expenses, I highly recommend you get started with my inventory, cost & pricing template here).

pricing etsy

You might need to do some dividing to get to your per unit cost. For example, if you bought 100 beads, you should take the price and divide it by 100 to get the price per bead. If you bought a bunch of fabric, you’d calculate the price per foot or yard. This will help you determine how much a product you made with 1 bead or 1 yard of fabric cost you. Getting your supplies down to the unit helps you accurately calculate exactly how much one finished good cost you to make.

Labor: Just like with a “real” job, you must pay yourself an hourly rate. Decide what you want your hourly rate to be (please, at least pay yourself more than minimum wage!), and determine how long it took you to make the product. Labor cost should equal Time x Wage, so if you’re paying yourself $10 an hour and it took you half an hour to make it, pay yourself $5 for that product. Keep in mind that you spend lots of time working on your business that isn’t necessarily spent making products, and you don’t get paid for that. When in doubt, I suggest you round up your time to more make sure you’re paying yourself what you’re worth.

Overhead RateRemember to refer to this article to get the full rundown on overhead. Basically, overhead is all the other expenses you have that 1) go into your product, but you can’t get the exact amount per product (the cost of the thread you used in your apron, the ink you used to write the calligraphy, etc.), plus 2) all of the other business expenses you pay that don’t have directly go into a product, but keep your business running (advertising costs, a web domain, your crafting tools, etc.).

The best way to include these expenses in your pricing formula is to come up with an average rate. You are basically putting a little chunk of these expenses into the price of everything you sell. Please refer to our overhead article for specific ways to calculate your overhead rate. I suggest calculating your rate based on your estimated products sold in a year (it’ll make sense if you read the other article!).

Wait a Minute, What’s That “Multiplier” for?

We’ve covered the main three components of my suggested pricing formula, now let’s discuss the multipliers. The “x2″ and “x4″ is what I shall call your profit multiplier. It’s basically what’s ensuring you a profit  at the end of the day. You’re taking your costs, multiplying them by the profit multiplier, and getting your sales price. Your sales price means you are getting paid back enough to first cover all your costs, then actually make some money on top of that (so you can pay yourself, invest & grow your biz, etc.).

Now let’s work some hypothetical examples.

Wire-wrapped druzy ring

purple druzy wire-wrapped ring on etsy

  • Supplies – That’s the cost of the wire and the druzy stone. The druzy stone cost me $3. I buy the wire in 30 feet spools. One spool costs me $8. So, I can either measure exactly how much wire I used for this ring, or I can make an estimated cost based on an average for each ring. Let’s say I use an average of 2.5 feet for each ring, so that gets me about 67 cents of wire in 1 ring ($8 per spool / 30 feet = $.267 per foot x 2.5 feet = $.67). Am I confusing you yet? (If this math confuses you, check out the template spreadsheet that will do it for you!) So, my supplies expense for this one ring is $3.67.
  • Labor – This ring takes me 10 minutes to make, and I want to earn $12 an hour. So 1/6th of an hour x $12 = $2 in labor for this ring
  • Overhead Rate – In my hypothetical situation, let’s say these are my estimated overhead expenses for the year:
    $800  – Etsy fees
    $250 – Paypal fees
    $250 – Advertising & printing expenses
    $300 – Craft show fees
    $50   – Photo props
    $100 – Editing software
    $75   – Tools
    $275 – Indirect product costs
    $15   – Website costs
    = $2,115

Wow! That’s a lot of overhead! These costs add up, that’s why it’s important to include them in your pricing strategy somehow.

I’m going to calculate my overhead rate based on an estimated annual number of products sold. Last year, let’s say I sold 400 items. This year, I’m estimating that I will sell 500 pieces. $2,115 / 500 = $4.23 per item for overhead. So, my formula would look like this:

[(Supplies + Labor) x 2] + Overhead Rate = Wholesale Price
[($3.67 + $2) x 2] + $4.23 = $15.57 for my wholesale price, x 2 = $31.14 for my retail price. If this were me I’d probably do some rounding and sell it for $31 flat.

Remember, there’s several ways you can calculate your overhead rate and incorporate it in your pricing strategy.

Rosette stud earrings

mint dahlia nickel free studs on etsy

    • Supplies – Let’s say the rosettes cost me 20 cents a pair, 20 cents for the studs, and 5 cents for the earnuts. That means my supply expense is 45 cents.
    • Labor – I make a bunch of earrings at once, so each pair doesn’t take me too long. Let’s say I pay myself 50 cents for each pair.
    • Overhead rate – $4.23 as I calculated it in the above example, and you can use that same overhead rate across the board for all your products.

So, my formula would look like this:
[(Supplies + Labor) x 2] + Overhead Rate = Wholesale Price
[($.45 + $.50) x 2] + $4.23 = $6.13 for my wholesale price, x 2 = $12.26 for my retail price. Again, that’d be $12 flat for me.

Handmade Pricing – The Big Picture

Does it seem crazy that a ring that cost you less than $4 to make should be priced at $31? Or a pair of earrings that cost you less than $1 could sell for 12 times that amount? That is why soooo many artisans underprice their goods, or make awesome sales but never turn a healthy profit. It all boils down to two things when coming up with a pricing formula that works:

  1. Covering all of your costs – find a reasonable, doable way to include all your business costs in your pricing formula, not just the obvious ones, whether this is by using an overhead rate, a percentage markup, or something else that works for you.
  2. Making a profit – here’s the kicker. If all your business expenses are represented somewhere in your pricing formula, that little “x2″ or “x4″ profit multiplier is what will allow you to be profitable (duh!). Too many entrepreneurs forget to include all their true costs in their formula, and profit multiplier that should be giving them a profit is really just covering all those forgotten expenses instead.

Trust me, it’s a lot easier to price your product for a profit now, even if it feels too high, and lower your price later for whatever reason, than to be in business for a while with prices that are too low, realize you aren’t going to have a sustainable business, and have to raise your prices later to stay open. Pricing high enough also allows you the flexibility to have seasonal sales and give out coupon codes.

Sumber: http://paperandspark.stfi.re/etsy-pricing-formula-how-to-price-for-handmade-part-1/?sf=yjorvvd#aa