Bukan Nicholas :D

Posts Tagged ‘#Alqur’anSaid’

Jangan Menertawakan Kentut

In Kutipan :) on November 28, 2014 at 10:33

Tidak sepantasnya bagi manusia untuk mencela orang lain dengan sesuatu yang kita juga biasa mengalaminya.” ~Imam Ibnu Utsaimin.

Diantara adab dalam islam yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tidak menghina keadaan orang lain, yang dirinya sendiri juga melakukannya.

Kentut adalah bagian dari rangkaian metabolisme tubuh manusia. Sehingga semua orang yang normal mengalaminya. Untuk itu, ketika kita mendengar ada orang yang kentut, kita dilarang menertawakannya. Karena kita sendiripun pernah mengalaminya.

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan khutbah. Beliau menceritakan tentang kisah onta Nabi Sholeh yang disembelih kaumnya yang membangkang. Beliau menafsirkan firman Allah di surat as-Syams. Kemudian beliau menasehati agar bersikap lembut dengan wanita, dan tidak boleh memukulnya. Kemudian beliau menasehati sikap sahabat yang tertawa ketika mendengar ada yang kentut. “Mengapa kalian mentertawakan kentut yang kalian juga biasa mengalaminya.” (HR. Bukhari 4942 dan Muslim 2855).

Menertawakan Kentut Kebiasaan Jahiliyah. “Dulu mereka (para sahabat) di masa jahiliyah, apabila ada salah satu peserta majlis yang kentut, mereka pada tertawa. Kemudian beliau melarang hal itu.” (Tuhfatul Ahwadzi, 9/189).
Umumnya orang akan menertawakan dan terheran dengan sesuatu yang tidak pernah terjadi pada dirinya. Sementara sesuatu yang juga dialami dirinya, tidak selayaknya dia menertawakannya. Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela orang yang menertawakan kentut. Karena kentut juga mereka alami. Dan semacam ini (menertawakan kentut) termasuk adat banyak masyarakat. (Syarh Riyadhus Sholihin, 3/120).
Kemudian Imam Ibnu Utsaimin juga menyebutkan satu kaidah, Ini merupakan isyarat bahwa tidak sepantasnya bagi manusia untuk mencela orang lain dengan sesuatu yang kita juga biasa mengalaminya. Maroji’ : syarh riyadlush sholihin, (Syarh Riyadhus Sholihin, 3/120).

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits

Advertisements

Mayoritas Penghuni Neraka Kaum Hawa?

In Kutipan :) on November 26, 2014 at 02:25

Wahai kaum wanita bersedekahlah, sesungguhnya aku telah diperlihatkan bahwa kalian adalah mayoritas penghuni neraka.” ~ Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

SIAPA MAYORITAS PENGHUNI NERAKA?

Suatu ketika Rasulullah keluar pada hari raya Idul Adha atau Idul Fitri menuju tempat shalat dan melalui sekelompok wanita.

Beliau           : ’Wahai kaum wanita bersedekahlah, sesungguhnya aku telah diperlihatkan bahwa kalian adalah mayoritas penghuni neraka.’
Kaum wanita   : ’Mengapa wahai Rasulullah?’
Beliau           : ’Kalian banyak melaknat dan durhaka terhadap suami. Dan tidaklah aku menyaksikan orang yang memiliki kekurangan akal dan agama yang dapat menghilangkan akal kaum laki-laki yang setia daripada salah seorang diantara kalian.
Kaum wanita    : ’Apa yang dimaksud dengan kekurangan agama dan akal kami wahai Rasulullah?’
Beliau              : ’Bukankah kesaksian seorang wanita sama dengan separuh dari kesaksian seorang pria?’
Kaum wanita    : ’Benar.’
Beliau              : ’Bukankah apabila wanita mengalami haidh maka dia tidak melakukan shalat dan puasa?’
Kaum wanita    : ’Benar.’
Beliau              : ’itulah (bukti) kekurangan agamanya.’ (HR. Bukhari)

Mengapa Wanita Menjadi Mayoritas Penghuni Neraka?

Dari beberapa hadits yang telah lalu, kita dapat mengetahui beberapa sebab yang menjerumuskan kaum wanita ke dalam api neraka dan bahkan menjadikan mereka golongan mayoritas dari penghuninya. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Banyak melaknat.

Imam Nawawi menyebutkan bahwa para ulama telah bersepakat akan haramnya melaknat. Laknat dalam bahasa Arab artinya adalah menjauhkan. Sedangkan menurut syariat artinya adalah menjauhkan dari rahmat Allah dan kebaikan-Nya. Dan tidak diperbolehkan bagi seseorang menjauhkan orang-orang yang tidak diketahui keadaannya dan akhir perkaranya dengan pengetahuan yang pasti dari rahmat dan karunia Allah. Karena itu mereka mengatakan,’Tidak boleh melaknat seseorang yang secara dhahir adalah seorang muslim atau kafir kecuali terhadap orang yang telah kita ketahui menurut dalil syar’i bahwa dia mati dalam keadaan kafir seperti Abu Jahal atau iblis.

Adapun melaknat (secara mutlak tanpa menyebut nama tertentu, pent) dengan menyebutkan sifat-sifatnya tidaklah diharamkan seperti melaknat seorang wanita yang menyambung dan minta disambungkan rambutnya, seorang yang mentato dan minta ditato, pemakan riba dan yang memberi makan dengannya, pelukis (makhluk hidup), orang-orang zhalim, fasiq, kafir dan melaknat orang yang merubah batas-batas tanah, orang yang menasabkan seseorang kepada selain ayahnya, membuat sesuatu yang baru di dalam Islam (bid’ah), dan lainnya sebagaimana telah disebutkan oleh dalil-dalil syar’i yang menunjukkan kepada sifat, bukan diri orang tertentu. (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi juz II hal 88 – 89)

2. Durhaka terhadap suami dan mengingkari (kufur) kebaikan-kebaikannya

Kedurhakaan semacam ini banyak sekali kita dapati dalam kehidupan keluarga kaum Muslimin, yakni seorang istri yang mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya selama sekian waktu yang panjang hanya disebabkan sikap atau perbuatan suami yang tidak cocok dengan kehendak sang istri. Padahal yang harus dilakukan oleh seorang istri ialah bersyukur atas kebaikan yang diberikan suaminya, janganlah ia mengkufurinya karena Allah tidak akan melihat kepada istri semacam ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.”

“ … dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Karena mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)

Termasuk dalam bentuk kedurhakaan istri kepada suami adalah hal-hal berikut ini apabila dilakukan tanpa alasan yang dibenarkan syari’at: Tidak melayani kebutuhan seksual suaminya, atau bermuka masam ketika melayaninya, tidak mau berdandan atau mempercantik diri untuk suaminya padahal suaminya menginginkan hal itu, menyebarkan aib suami kepada orang lain, menolak bersafar (melakukan perjalanan) bersama suaminya, mengkhianati suami dan hartanya, membuka dan menampakkan apa yang seharusnya ditutupi dari anggota tubuhnya, berjalan di tempat umum dan pasar-pasar tanpa mahram, bersenda gurau atau berbicara lemah-lembut penuh mesra kepada lelaki yang bukan mahramnya, meminta cerai dari suaminya tanpa sebab yang syar’i, dan yang semisalnya.

3. Tabarruj (bersolek)

Yang dimaksud dengan tabarruj ialah seorang wanita yang menampakkan perhiasannya dan keindahan tubuhnya serta apa-apa yang seharusnya wajib untuk ditutupi dari hal-hal yang dapat menarik syahwat lelaki.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan tinggallah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj dengan tabarrujnya orang-orang jahiliyyah pertama dahulu.” (QS. Al-Ahzaab: 33)

Di dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan tentang sifat wanita penduduk neraka, beliau bersabda : “ … dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan wanginya Surga padahal wanginya bisa didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu)

Inilah beberapa sebab yang mengantarkan wanita menjadi mayoritas penduduk neraka. Semoga Allah menyelamatkan kita semua dari azab-Nya di dunia dan akhirat. Amiin.

Sumber: [Telah dimuat di dalam majalah NIKAH volume 8 no. 7 bulan November tahun 2009]

Allah Menjamin Rezekimu

In Kutipan :) on November 16, 2014 at 02:25

Seekor burung yang lemah, hanya bermodalkan paruh dan cakarnya, pergi mengais rezeki pun tidak akan luput dari rezeki dariNya. Allah telah menjamin rezeki setiap makhlukNya, tidak ada satu pun binatang atau makhluk hidup lainnya di muka bumi ini melainkan Allah lah yang telah memberinya rezeki.

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS: Huud:6)

Ayat tersebut hendaknya ditanamkan dalam diri kita dan senantiasa mengingat bahwa Allah telah menjamin kelangsungan rezeki kita hingga hembusan nafas yang terakhir. Allah telah menggariskan rezekimu sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit-langit dan bumi. Allah juga telah mengukuhkannya sebelum kita menghirup nafas di bumi ini.

Disaat kita merasa susah mencari penghidupan dunia, janganlah kita berputus asa. Karna Allah tidak akan memberikan rahmat kepada orang-orang yang berputus asa. Tidak berputus asa yakni dengan tetap mencari rezeki yang halal dan diperbolehkan syariat. Ingatlah bahwa rezeki yang haram itu tidak akan menambah rezeki yang telah ditetapkan bagi kita dan jika kita mencari dengan cara yang halal pun tidak akan mengurangi jatah rezeki yang telah Allah jaminkan.

Satu hal yang perlu kita ingat bahwa jika kita menginginkan rezeki dari Allah janganlah kita hanya berdiam diri dan berpangku tangan. Lihatlah burung, dia tidak lantas berdiam diri di sarangnya untuk menanti rezeki dari Allah. Namun, ia keluar dari sarangnya, terbang kian kemari untuk mengais rezeki Allah di muka bumi. Mengais rezeki dengan kegigihannya, mengeluarkan segala energinya dengan mengaiskan paruh dan cakar yang dimiliki. Demikianlah sunatullah. Allah tidak akan menurunkan rezeki dari langit begitu saja meskipun Dia mampu melakukannya. Allah menginginkan kita untuk berusaha, menempuh sebab untuk kemudian memetik hasil jerih payah kita. Bumi Allah begitu luas yang disediakan oleh Allah untuk diambil rezekinya.

Tidak usah khawatir atas sedikitnya harta yang kita miliki. Syukurilah yang sedikit karena dengan begitu engkau dapat menikmati lezatnya keimanan. Betapa indah bertawakal hanya kepadaNya…

#likeislam #tawakal #muslimreminder

Sumber: @likeislam

Posted from WordPress for Android

Sempurnakan Separuh Agamamu

In Kutipan :) on November 12, 2014 at 09:26

Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.”

Kenapa dikatakan Separuh Agama? Para ulama menjelaskan bahwa yang umumnya merusak agama seseorang adalah kemaluan dan perutnya. Kemaluan yang mengantarkan pada zina, sedangkan perut bersifat serakah. Nah.. Dengan menikah berarti membentengi diri dari salah satunya, yaitu zina dengan kemaluan.

Jangan ragu.. Usah takut.. Allah yang akan mencukupkan rizki, “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, … dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur: 32).

Repost dari @likeislam

Posted from WordPress for Android